"Kang Bagas, encep teh tos aya panggilan interview di Jakarta, nuhunnya kamari parantos ngrimkeun biodatana ka imel, pangcarioskeun ka neng imel na nuhun atuh"
"Muhun cep muhun... Haduh..."
"Kunaon kang? "
"Akhh! Enteu.."
Setelah mendapat panggilan interview di salah satu agen penyalur pekerja di Pelayaran, esoknya Encep langsung berangkat ke jakarta jam 3 dini hari. Berbekal alamat yang sangat lengkap plus petunjuk untuk naik apa saja jurusan apa saja yang harus di naiki selama perjalan ke jakarta dari Cianjur kota asalnya.
Diantar ema dan bapa encep membawa bekal yang cukup, 2box menu makan pagi dan siang, 1 botol besar air minum. Dan bekal uang yang cukup banyak dari bapa. Bapa encep adalah orang paling kaya di kampung, pesan bapa encep, kalau encep nyasar di jakarta tinggal naik taksi ajah suruh antar ke cianjur, uang bukan menjadi masalah.
Pagi hari encep tiba di Terminal Kampung rambutan. Lalu encep pun membuka bekal makanannya. Dan makan di terminal Rambutan.
"Mau kemana mas? Kok rapi amat pake kemeja dasi segala pagi pagi gini?" Tanya seorang pria yang mendekatinya.
"Hmm... Bade interview, eh mau interview encep teh" jawabnya polos
"Interview dimana kang encep?"
"Di Meranti magsaysay"
"ooh, itu kan agen kapal pesiar, bade dameldi kapal pesiar? "Tanyanya tak percaya.
"Muhun, atosnya encep bade naek buswey, assalamualaikum" kata nya sambil berlalu.
"Kang encep, kang encep,.." Panggilnya
Encep pun Malah berlari ketakutan
"Kang, busway mah kapalih dieu sanes kadinya" katanya teriak.
" ooh, nuhun nuhun." Lalu encep memutar arah.
Encep membuka catatannya setelah turun di Buswey ia harus naik busway dari Rambutan ke kampung melayu, encep membayar karcis busway 2000 rupiah lalu berangkat ke Kampung melayu.
Beberapa halte terlewati, encep menuruti catatan lengkapnya yang di dapat dari temannya Bagas. transit di halte pun ia lewati dengan mudah, encep melihat orang orang di ibukota sangat lah berbeda dengan orang orang di kampungnya. Di sini semua orang berjalan dengan cepat dengan muka yang datar, dan beberapa orang lagi bermuka lelah dan panik,. Belum lagi dengan udara yang kotor dan panas. Di kiri dan kanan hanya ada bangunan bangunan tinggi.
Akhirnya encep tiba di halte busway terakhir, lalu memutuskan untuk berjalan kaki. Waaktu interview adalah jam 9 pagi, jam ditangan encep menujukan jam 8pagi. Setelah berjalan kesana kesini encep bingung mencari alamat yang ada di tangannya. Ia sudah mengelilingi gedung Oub berkali kali sampai akhirnya ia sampai di gedung tempat interviewnya di adakan. Kemeja encep basah karena keringat dasi nya ia lepas karena kotor.
Tibalah encep di gedung Meranti Magsaysay. Setelah mengambil antrian encep pun di panggil untuk interview:
Nomor Tujuh silahkan.
"Good Morning." Sapa seorang gadis peng interview
"Good Morning, may i seat miss?" Pinta encep
"Yes please, okke mr Encep please tell me about your self" tanya gadis itu
"I would like to introduce my self, my name is ENCEP SURECEP I'am 19 years old, i was born in cianjur on 16 of july 1993. im graduation From PHT School 2012, im single, i think thats would be enough, thank you for your kind attention"
"Do you have any tatto?"
"No."
"Are you smoking?"
"No"
"Hmm how about your experience? Tell me about your experience!"
"Hmm... I do not have a lot of experience working in the hospitality field. But I am hard-working and ready to be placed anywhere."
"please to my stand will measure your height and weigh your weight."
Setelah menjawab beberapa pertanyaan, encep bisa mmenjawab dengan mudah, maklum encep mengikuti kursus bahasa inggris di kampung lalu Encep pun di ukur dan di timbang tinggi dan berat badannya.
"Your English is good but, We are sorry but for now we can not accept you because of your weight is very less and you're still a little experience. You could try another interview if your weight is proportional"
Encep kecewa karena gagal dalam interview tahap pertama ini, tapi ia tidak boleh sedih. Untuk menghibur diri ia pergi ke monas. Perjalanan menuju monas tidak ada dicatatannya. Tapi ia tahu bahwa ada halte busway Monas.
"Haduh aing mah euy, teu lulus gara gara cungkring teuing ieu teh, Akhh! Aing mah ulin we Akhh! Ka monas manya ka jakarta teu ka monas, untung tadi ngadenge batur ngomong rek turun di halte buswey Monas, halte baswey nu tadi kamananya jalanna??.."
Ia melihat catatannya tak ada petunjuk ke Monas, lalu ia memasukan catatan nya ke Tasnya, karena takut hilang atau robek kalau ia simpan di sakunya. Halte busway yang tempat encep tadi turun belum ia temukan, lalu ia melihat sebuah kedai kopi STARBuCK karena melihat orang - orang ngopi di sana encep juga akhirnya masuk karena ingin minum kopi hitam favoritnya. Ketika ia masuk tak ada menu Kopi Hideung favorit enccep akhir ia pesan Cappochino, dan betapa terkejutnya encep ketika tahu harga nya yang mahal.
"Anjjirrr, teu salah ieu teh?... Harga na mahal mahal teuing, Akhh! Teu jadi Akhh! Teu jadi... Tahh da karek di uyup sakali" kata encep sambil lari dari kedai kopi itu.
"Mas, mas mas harus bayar" kata karyawan starbuck sambil mengejar encep.
Untung karena biasa lari lari di sawah encep bisa lolos dari kejaran karyawan itu, dan pas mata encep melihat ke arah kiri, dan itulah Halte busway, tanpa pikir panjang i naik busway itu.
Cuaca semakin panas, encep berkali kali turun naik Busway karena bingung untuk menuju monas. Setelah akhirnya seorang membantunya mengarahkan encep ke arah halte monas.
"ooh jadi turun di halte dukus atas teras ngalih bus ka jurusan halte monas kitu kang?" Tanya encep.
"Muhun. Muhun." Jawabnya bisa berbicara bahasa sunda.
***
"Alhamdulillah akhirnya encep ka monas oge ya allah.. " Teriak encep di pintu gerbang monas sambil sujud syukur.
Tak lama encep berlari dari depan gerbang monas sampai ke depan monas. Tak lupa juga ia mengeluarkan Hpnya untuk photo photo dan langsung mengunggahnya ke Facebook. Sampai di depan tugu monas ia bingung bagaimana cara menuju ke dalam monasnya, ia ingin menuju tugu emasnya, ingin melihat semua kota jakarta dari atas.
Setelah bertanya kesana kemari encep pun masuk ke monas melalui jalan bawah tanah, tak lupa juga ia memotret semua keadaan disana. Untuk bisa naik ke atas monas harus melewati antrian yang panjang. Demi bisa naik encep pun. Rela mengantri. Setelah membayar karcis lalu mengantri lagi Sampai pada saat encep akan masuk ke Lift, lalu akhirnya petugas keluar dan mengumumkan bahwa lift akan diperbaiki karena rusak. Alhasil enccep pun tidak bisa naik ke atas puncak monas, orang orang kecewa, semua saling dorong, dan bertiriak .
Di area monas encep lalu membuka makan siangnya dan makan. Langit sudah gelap, encep terlalu lama mengantri tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 3 sore.
"Haduh geus sore. Can nelepon si ema. " Kata encep sambil mengodok saku celananya.
"Astagfirulloh... Hape encep mananya?.. Akhh! Aing mah pasti murag pas tadi ngantri da. Duh kumaha atuhnya."
Langit semakin gelap, tak lupa encep mencari mesjid untuk solat,n lalu encep pun melihat mesjid istiqlal , encep pun pergi ke istiqlal untuk solat ashar dan magrhib yang sebentar lagi akan tiba. Lalu encep pun solat ashar, lalu solat bejamaah maghrib dan isya.
Jakarta sudah gelap, perutnya sudah terasa lapar, ia pun makan nasi goreng untuk makan malam ini. Lalu ia bingunng harus tidur dimana?, apa harus tidur di hotel? Tapi harga hotel per malam pasti mahal. Encep tak mau menhabiskan uangnya untuk itu. Ia juga ingat pesan ayah nya kalau ia tersesat tinggal naik taksi dan akan dibayar di kampungnya. Tapi harga taksi ke kampung bisa berjuta - juta. Ia tak mau menyulitkan orang tuanya, apalagi ia gagal interview. Lalu ia melihat catatannya.
"Astagfirulloh, tas encep mana? Alah siah mana dijeurona aya cateutan encep daih." Ia pun panik lalu kembali ke istiqlal.
"Alah siah dimana tas encep, tadi teh didieu. Akhh! Aya aya wae, mana catetanna dina tas daih. Hape leungit , nyasar deuih, aduh gusti nu agung tulungan encep." Tangis encep di dalam masjid.
"Ayeuna encep sare dimananya?" Rengek encep yang sekarang mulai ngantuk sambil berjalan kebingungan.
Jam 12, ia masih berjalan - jalan tanpa arah. Encep melihat di seorang ibu dan anak kecil yang di emperan toko sedang bersiap siap untuk tidur. Ia menghampirinya ..
"Mau tidur disini juga? Boleh nak?... Saya masih punya kardus banyak disitu." Katanya sambil menunjuk ke arah kardus.
"Ini bang" kata anak kecil yang memberikan nya pada encep.
"Terimakasih de" katanya.
Lalu encep merebahkan badannya yang sudah kelelahan. Didepannya adalah sebuah bangunan besar yang biasa disebut Mall.
"Mah,,... Laper pengen makan" keluh si anak kecil,
"Sa tadi siang kan udah makan nasi. Besok lagi ya sa, besok pasti banyak bekas kardus dan koran, besok kan ada Inbox di depan. Kamu juga bakalan bisa nonton artis."
Tanpa pikir panjang, encep yang mendengar itu langsung pergi mencari makanan ia lalu membeli 2 bungkus nasi goreng untuk si ibu dan si anak yang bernama isha.
"Terima kasih nak, kamu baik sekali. Kamu mau kemana dan dari mana?" Tanya sang ibu yang sedang makan.
Encep menceritakan petualangannya di jakarta, lalu si ibu memberi tahukan jalan untuk sampai ke terminal Kampung rambutan. Tapi si ibu memberikan jalan menggunakan bis kopaja, bukan buswey, karena si ibu belum pernah naik busway.
***
Hari berganti, jam 5 pagi si ibu sudah membangunkan encep, lalu mengajaknya ke dalam mall karena akan ada panggung Inbox disana. Tak lupa si ibu mengajak encep solat subuh. Isha banyak bercerita tentang ayahnya, ayahnya sekarang kerja di rumah majikannya, sekarang ia dan ibunya sedang bingung mencari tempat tinggal, ia juga bercerita teantang idolanya. "Cherrybelle" . Dan idolanya itu sekarang akan ada di acara Inbox.
Acara pun dimulai, penonton disana sangat banyak dan penuh sesak. Isha lalu ia gendong agar bisa melihat sosok idolanya dengan jelas. Encep senang melihat isha tersenyum lebar bahagia. Lalu pada tengah acara, pembawa acara meminta satu penonton untuk naik ke atas agar bisa foto bareng cherrybelle. Tak pikir panjang encep dan isha mengacungkan tangannya, dan diikuti dengan penonton lain.
Agar ia dapat terlihat ia loncat loncat walaupun sambil mengendong isha di bahunya! Isha pun dengan semanggat mengacungkan tangannya. Akhirnya mmereka berdua dipilih dan naik ke atas panggung. Isha menangis karena bahgia di atas panggung.
"Mana kameranya? Biar saya fotoin" pinta andhika pembawa acara inbox.
"Hape saya ilang, isha gak punya hape." Kata encep
"Haduh gimana inih?" Teriak gading martin pembawa acara inbox.
"Ehh aku punya kamera polaroit di tas, bentar ya aku ambil" kata Anisa personil Cherrybelle.
Akhirnya encep dan isha dapat foto bersama cherry belle dengan kammera nya anisa dan fotonya langsung di peluk sama isha, lalu isha dipeluk semua personil cherrybelle. Isha senyum bahagia, di bawah, encep juga melihat ibu isha meneteskan air mata.
"Gimana rasanya encep? Dan isha? Bisa foto bareng cheRrybelle, langsung jadi lagi fotonya" kata andhika.
"Encep seneng, alhamdulillah. Encep boleh bicara ke mamah bapa encep di cianjur?" Pinta encep.
"ooh orang cianjur, sok Mangga, mangga..." Kata gading
"Mah, abah, encep didieu sehat, punteun teu masihan kabar, henpun encep na leungit. Tos tidieu encep lansung uih da mah, bah,.... Encep di bantosan ku isha sreng mamahna. Entos kitu." Kata encep sambil berkaca-kaca.
"Kalo isha ada yang mau di bilang ke kakak chibi?" Tanya andhika.
"Terima kasih" katanya, sambil pipnya memerah.
"Pokoknya isha harus semangat! Harus bantu mamah. Jangan lupa nanti sekolah kalau udah agak gedean dikit." Kata salah satu personil cherry belle.
"Harus jagaain mamah papah, harus bikin merka bangga. Satu lagi harus rajin solat dan rajin belajar." Kata anisa chibi.
Banyak pelajaran berharga yang ia terima selama ia berada di ibu kota. Setelah sarapan pagi bersama ibu dan isha, encep pun pamitan. Encep lalu naik kopaja, tapi karena ia salah turun, akhirnya ia kembali nyasar. Untung ada seseorang yang membantunya lagi.
"Bang kenapa bingung gitu? Eh abang yang kemarin di halte bus way, mau kemana lagi sekarang? Ke Monas lagi?" Tanyanya
"Eh, si akang nu kamari, abdi bade uih ka cianjur kang ayeuna bade ka terminal rambutan, " jawab encep.
"hyu atuh sareng, abdi bade ka kampung melayu, urang naek bus way. " Ajaknya.
"hyu atuh kang... Kang saha?"
"Irvan. Ari akang saha? "
"Encep."
Karena keberuntungan encep bertemu dengan Irvan, orang yang kemarin juga menunjukan jalan ke Monas.
"Kang encep, tipayunnya, kang encep mah teras we sampei keun ka kampung rambutan" kata pamitan lalu turuun dari busway.
"Nya nuhun kang irvan"
Akhirnya ia sampai juga di terminal kampung rambutan, terminal in sangat ramai apa lagi jam jam 11an seperti ini, matahari sudah ada di atas kepala, padahal kalau di cianjur, jam 11, burung masih bernyanyi, matahari mash sembunyi dibalik awan. Tapi disini bereda apalagi debu polusi yang kotor.
Banyak orang yang menawarkan bantuan, banyak yang menghampiri, bertanya mau kemana, tapi enccep bingung dan pergi ke pinggir untuk makan siang dan solat duhur. Setelah solat, lalu ia melihat di dalam mushola ada seorang pemuda yang kemarin mengajaknya ngobrol, dan ia bisa bicara bahasa sunda. Ia yakin orang itu baik, karene ia solat, pikirnya.
"Kang, upami bade ka cianjur naek bus nu palih mana nya?" Tanya encep.
"Eh si akang nu kamari. Kumaha interviewna ? Lancaar?" Tanyanya.
"Gagal kang, maalah nyasar." Jawab encep.
"Akhh! Can rejeki meren, ke cobaan dai we." Ceramahnya.
"Kang palih mana bus na nu ka cianjur." Tanya encep lagi.
"Ohh, itu nu palih ditu aya bus alit da, hyu ku sayah anterukeun"
"Saha kang nami na?" Tanyanya
"Encep kang, Nuhun nya kang,... "
"Kang Asep. Kin mun bade interview dai pilarian we sayah, taroskeun Asep Jablay kituh." Ceritanya
"Naha Asep Jablay?. Akang gigolo sugan?" Tanya nya polos.
"Haa... Lain, lantaran sayah mah rajin solat, soleh cenah ceuk baturmah, ngan mun di sebut asep soleh kan aneh . Jadi d sebut jablay, nu aslina teu jiga jablay kitu." Ceritanya lagi.
"Ohh..."
Setelah naik bus, asep pun seperti berbicara pada sopir, dan tak lama bus pun jalan. Sepertinya asep memerintahkan supir bus agar tidak mengetem.
Encep lalu sampai di terminal Rawa Bango cianjur. Setelah ia turun ia di sambut temannya Bagas.
"Alhamdulillah, nyampe oge, mun enteu sayah di gorok ku bapa encep." Kata bagas yang sudah seharian menunggunya.
"Ti tatadi diantosan lami kieu, cenah di tv rek langsung balik naha wayah kieu karek nepi?" Lanjutnya menggerutu.
"Ceritana panjang kang!"
Selesai.
__________________________________
Akhh! Aya aya wae
Gagas Alf.
(@gaagas August 12 2013)
gaagas.blogspot.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar