Rabu, Agustus 28, 2013

cerpen; 1Rasa

"Aku tak bisa memilih, maafkan aku Vin, maafkan aku dam.."





Davin, aku harap kau mengalah untukku, tapi tak mungkin, aku mungkin sudah tahu dari awal kau juga jatuh cinta pada Arianna, gadis yang sangat kudamba. Lalu kau pun pergi arianna.

"Dam, ngapain diem disini sendirian,? Anna davin kemana?" Tanya Lily saat kembali ke mejaku.
"Eh dam, kita udah jadian" kata Nuel sambil senyum-senyum kegirangan.
"Sttt..." Kata lily. "Trus kemana mereka?" Lanjutnya.
"Pergi" jawabku pelan masih lemas .
"Susul ayo, emang ditolak ya? " Kata nuel asal.
"Ssstt... Ga mungkin, pasti diterima kan" tanya lily.

Kuputuskan untuk pulang. Tapi kedua sahabatku yang sekarang menjadi sepasang kekasih menyuruhku untuk berpamitan pada Anna. Aku tahu Anna pasti menerima Davin kalau saja aku tak mengucapkan cinta. Mungkin ia hanya tak enak saja harus menolakku. Mungkin nanti mereka akan menjadi sepasang kekasih. Dan aku harus siap menerimanya. Dan aku akan tetap menjadi sahabat mereka.

"Naa, aku pamit pulang dulu, maaf kemarin aku membuat kamu kaget dan bingung." Pamitku padanya, mungkin untuk terakhir kalinya
"Iya, maafkan aku dam, akuu..."
"Ya naa... Aku ngerti." Kata ku memotong perkataannya, sambil berjabattangan dengannya.

Ingin sekali kupeluk erat tubuhmu, tapi ku tak mampu. Ingin sekali air mata ini keluar, tapi ku tahan. Ingin sekali ku terus disini tapi tak bisa. Ingin sekali kau menjadi milikku tapi tak mungkin.

Libur masih panjang, tapi aku mmemutuskan untuk pulang. Kita bahkan baru Satu malam disini, tapi aku takan bertahan bila disini. Saat ku melangkah pergi kulihat seseorang membawa sesuatu di plastik yang bisa kuyakini itu adalah Donat.

"Dam, mau kemana?" Tanya Davin.
"Aku mau pulang dulu Vin, " jawabku
"Pulang ? Yakin? Pulang naik apa?" Tanyanya dengan wajah yang nampak berseri.
"Aku diantar Nuel, nanti Nuel balik lagi kesini Besok." Jawab ku lalu pergi.

***
Arriana,...
Terlalu lama ku pendam
Semua rasa ini padamu
Kini ku sudah tahu
Ku ingin kau tahu semua..
Aku lebih dulu mencintaimu
Aku lebih dulu mengenalmu
Bukannya dia..
Orang bilang
Cinta itu tak harus memiliki
Tapi ku ingin memilikimu
Memang tinggi egoku.
Seandainya kau pilih dia.
Aku bahagia ,mungkin...
Namun.. ingin ku miliki dirimu..
Demi cinta yang telah lama ku pendam
Aku mencintaimu...
Arriana...


Kuketik sebuah surat cinta untukmu, tapi hanya ku ketik di laptopku, tanpa kuberikan padamu. Liburan masih panjang, mungkin kalian disana sedang bersenang senang tanpa ku. Tapi itu lebih baik daripada aku bersama kalian dan melihat kebersamaan kalian, hanya membuatku sakit.

Nuel esok akan berangkat kembali ke bandung, apakah aku harus ikut? Lalu memperjuangkan cinta seperti halnya Davin yang selalu berjuang demi orang yang ia cintai.

"Besok pagi harus ikut ke bandung pokonya. Sekarang pikirin aja dulu, apa kamu rela ngeliat Davin jadian sama Anna?" Tanya Nuel.
"Dam, gerak dam! Jangan nyerah. " Gertaknya.

Apa yang harus ku lakukan? Tuhan, apakah ia jodohku? Apakah aku harus menunjukan rasa cintaku? Mungkinkah selama ini ia tak tahu, ia tak merasakannya?, ooh tuhan, berilah dia persaan cintaa, cinta padaku, bukan pada orang lain.

***

Aku memiliki Satu Rasa, Cinta. Rasa yang sangat aneh kurasakan, bisa manis, senang, pahit, sedih , sakit, bingung , takut.. Ya mungkin begitulah rasanya jatuh cinta. Dan yang sedang ku rasakan saat ini adalah sakit. Mungkin karena ia tak mencintaiku. Dan sakit karena mungkin ia akan memilih orang lain, Davin.

Telepon ku berdering, Nuel menungguku untuk ikut dengannya kembali ke bandung. Aku hanya diam di kamarku. Pintu ku pun di ketuk puluhan kali oleh nuel, hanya untuk mengajakku kembali ke bandung. Tapi aku ragu dan hanya diam.

"Damm!!... Buka pintunya!" Teriaknya.
Akhirnya pintu kubuka.
"Cepetan mandi . Jam berapa ini? Tar macet kalo kesiangan."
"El, aku gak akan pergi" jawabku.
"Yakin? Eh, lu punya game baru, gak bilang - bilang" katanya yang sambil memainkan laptopku.
"Kamu pergi saja sekarang. " Pintaku.
"Bentar gua main game dulu" katanya yang emang hoby main game.

Nuel pun pergi. Dan aku sendiri selalu teringat kata - kata Nuel dan Lily. Cinta harus diperjuangkan, kalau ia tak cinta buatlah dia jatuh cinta padamu. Jangan menyerah. Harus semangat.

Tapi raga ini lemah. Otakku sudah menyerah. Otak ku terisi dengan anna dan davin. Mereka berdua, bahagia. Aku tak rela. Ku tak akan rela. Apa yang harus kulakukan? Mebiarkannya?. Atau merubahnya? Masih ada kesempatan buatku. Lalu aku bangun, kuyakinkan jiwa dan raaga ku untuk pergi ke bandung. Memperjuangkan cintaku.

Setelah mandi, aku langsung berangkat dengan meminjam motor kakakku. Sampai akhirnya di Bandung. Di perjalanan sebelum rumah kostan anna aku berhenti di Pizza hut, aku tahu anna suka pizza, bukan donat.

Saat aku melihat rumahnya yang kelabu itu mendadak berwarna warni dihiasi lampu warna warni. Di halaman itu ada sebuah meja dan dua kursi yang diduduki Davin dan Anna. Aku berhenti. Dan mendekat tapi mereka tak sadar keberadaannku.

"Anna, aku jatuh cinta, sekali lagi maukah kamu jadi pacarku?.. Ini semua ku persebakhan untukmu" kata davin denagan kata kata romantis
"Maaf fin... Sebenarnya hati aku sudah terisi , bahkan dari dulu. Dan orang itu bukan kamu." "Maaf kalau selama ini aku seperti memberi harapan padamu. Hati aku sudah di isi oleh Adam."

Seperti tersambar petir aku kaget luar biasa tapi bahagia. Ternyata dia juga jatuh cinta, dan selama ini aku telah mengisi hatinya, seperti ia juga telah mengisi hatiku. Kita punya satu rasa yang sama, Cinta.

"Tapi mungkin dia tak sepenuhnya cinta aku, buktinya dia takut memperjuangkan cintanya, "

Ku langkahkan kakiku mendekat.

"Adaamm!!! " Teriak Lily yang ternyata sedang mengintip mereka.

"Adam..." Kata Anna, yang mengarahkan kepalanya ke arah Adam.
"Na, ini buat kamu. Pizza dengan ekstra keju" kataku.
"Makasih Na. Aku lega karena sudah bilang semua. Sekarang aku pamit pulang dulu ya. Na, Dam.." Kata Davin lemas
"Vin,..." Panggil anna..
"Aku gak apa apa na.."

Dan akhirnya kita mempunyai satu rasa yang sama CINTA. Cinta perlu di ucapkan. Cinta perlu di perjuangkan.

"Terima kasih dam, aku udah nerima surat kamu. Aku yakin kamu benar - benar cinta aku. Maaf aku sempat nolak kamu."
"Surat? Surat cinta?"
"Aku dapet pesan di Facebook tadi pagi."
"Nuel.."
"Kenapa?..."
"Eh enggak.."





Selesai

__________________________________
1Rasa
Gagas Alf.
(@gaagas Jun 20 2013)

Tidak ada komentar: