Rabu, Agustus 28, 2013

cerpen; Misfortune Happiness (Akhh,.. Aya Aya Wae!)

"Kang Bagas, encep teh tos aya panggilan interview di Jakarta, nuhunnya kamari parantos ngrimkeun biodatana ka imel, pangcarioskeun ka neng imel na nuhun atuh"
"Muhun cep muhun... Haduh..."
"Kunaon kang? "
"Akhh! Enteu.."

Setelah mendapat panggilan interview di salah satu agen penyalur pekerja di Pelayaran, esoknya Encep langsung berangkat ke jakarta jam 3 dini hari. Berbekal alamat yang sangat lengkap plus petunjuk untuk naik apa saja jurusan apa saja yang harus di naiki selama perjalan ke jakarta dari Cianjur kota asalnya.

Diantar ema dan bapa encep membawa bekal yang cukup, 2box menu makan pagi dan siang, 1 botol besar air minum. Dan bekal uang yang cukup banyak dari bapa. Bapa encep adalah orang paling kaya di kampung, pesan bapa encep, kalau encep nyasar di jakarta tinggal naik taksi ajah suruh antar ke cianjur, uang bukan menjadi masalah.

Pagi hari encep tiba di Terminal Kampung rambutan. Lalu encep pun membuka bekal makanannya. Dan makan di terminal Rambutan.

"Mau kemana mas? Kok rapi amat pake kemeja dasi segala pagi pagi gini?" Tanya seorang pria yang mendekatinya.
"Hmm... Bade interview, eh mau interview encep teh" jawabnya polos
"Interview dimana kang encep?"
"Di Meranti magsaysay"
"ooh, itu kan agen kapal pesiar, bade dameldi kapal pesiar? "Tanyanya tak percaya.
"Muhun, atosnya encep bade naek buswey, assalamualaikum" kata nya sambil berlalu.
"Kang encep, kang encep,.." Panggilnya
Encep pun Malah berlari ketakutan
"Kang, busway mah kapalih dieu sanes kadinya" katanya teriak.
" ooh, nuhun nuhun." Lalu encep memutar arah.

Encep membuka catatannya setelah turun di Buswey ia harus naik busway dari Rambutan ke kampung melayu, encep membayar karcis busway 2000 rupiah lalu berangkat ke Kampung melayu.

Beberapa halte terlewati, encep menuruti catatan lengkapnya yang di dapat dari temannya Bagas. transit di halte pun ia lewati dengan mudah, encep melihat orang orang di ibukota sangat lah berbeda dengan orang orang di kampungnya. Di sini semua orang berjalan dengan cepat dengan muka yang datar, dan beberapa orang lagi bermuka lelah dan panik,. Belum lagi dengan udara yang kotor dan panas. Di kiri dan kanan hanya ada bangunan bangunan tinggi.

Akhirnya encep tiba di halte busway terakhir, lalu memutuskan untuk berjalan kaki. Waaktu interview adalah jam 9 pagi, jam ditangan encep menujukan jam 8pagi. Setelah berjalan kesana kesini encep bingung mencari alamat yang ada di tangannya. Ia sudah mengelilingi gedung Oub berkali kali sampai akhirnya ia sampai di gedung tempat interviewnya di adakan. Kemeja encep basah karena keringat dasi nya ia lepas karena kotor.

Tibalah encep di gedung Meranti Magsaysay. Setelah mengambil antrian encep pun di panggil untuk interview:

Nomor Tujuh silahkan.

"Good Morning." Sapa seorang gadis peng interview
"Good Morning, may i seat miss?" Pinta encep
"Yes please, okke mr Encep please tell me about your self" tanya gadis itu
"I would like to introduce my self, my name is ENCEP SURECEP I'am 19 years old, i was born in cianjur on 16 of july 1993. im graduation From PHT School 2012, im single, i think thats would be enough, thank you for your kind attention"
"Do you have any tatto?"
"No."
"Are you smoking?"
"No"
"Hmm how about your experience? Tell me about your experience!"
"Hmm... I do not have a lot of experience working in the hospitality field. But I am hard-working and ready to be placed anywhere."
"please to my stand will measure your height and weigh your weight."

Setelah menjawab beberapa pertanyaan, encep bisa mmenjawab dengan mudah, maklum encep mengikuti kursus bahasa inggris di kampung lalu Encep pun di ukur dan di timbang tinggi dan berat badannya.

"Your English is good but, We are sorry but for now we can not accept you because of your weight is very less and you're still a little experience. You could try another interview if your weight is proportional"

Encep kecewa karena gagal dalam interview tahap pertama ini, tapi ia tidak boleh sedih. Untuk menghibur diri ia pergi ke monas. Perjalanan menuju monas tidak ada dicatatannya. Tapi ia tahu bahwa ada halte busway Monas.

"Haduh aing mah euy, teu lulus gara gara cungkring teuing ieu teh, Akhh! Aing mah ulin we Akhh! Ka monas manya ka jakarta teu ka monas, untung tadi ngadenge batur ngomong rek turun di halte buswey Monas, halte baswey nu tadi kamananya jalanna??.."

Ia melihat catatannya tak ada petunjuk ke Monas, lalu ia memasukan catatan nya ke Tasnya, karena takut hilang atau robek kalau ia simpan di sakunya. Halte busway yang tempat encep tadi turun belum ia temukan, lalu ia melihat sebuah kedai kopi STARBuCK karena melihat orang - orang ngopi di sana encep juga akhirnya masuk karena ingin minum kopi hitam favoritnya. Ketika ia masuk tak ada menu Kopi Hideung favorit enccep akhir ia pesan Cappochino, dan betapa terkejutnya encep ketika tahu harga nya yang mahal.

"Anjjirrr, teu salah ieu teh?... Harga na mahal mahal teuing, Akhh! Teu jadi Akhh! Teu jadi... Tahh da karek di uyup sakali" kata encep sambil lari dari kedai kopi itu.
"Mas, mas mas harus bayar" kata karyawan starbuck sambil mengejar encep.

Untung karena biasa lari lari di sawah encep bisa lolos dari kejaran karyawan itu, dan pas mata encep melihat ke arah kiri, dan itulah Halte busway, tanpa pikir panjang i naik busway itu.

Cuaca semakin panas, encep berkali kali turun naik Busway karena bingung untuk menuju monas. Setelah akhirnya seorang membantunya mengarahkan encep ke arah halte monas.

"ooh jadi turun di halte dukus atas teras ngalih bus ka jurusan halte monas kitu kang?" Tanya encep.
"Muhun. Muhun." Jawabnya bisa berbicara bahasa sunda.

***

"Alhamdulillah akhirnya encep ka monas oge ya allah.. " Teriak encep di pintu gerbang monas sambil sujud syukur.

Tak lama encep berlari dari depan gerbang monas sampai ke depan monas. Tak lupa juga ia mengeluarkan Hpnya untuk photo photo dan langsung mengunggahnya ke Facebook. Sampai di depan tugu monas ia bingung bagaimana cara menuju ke dalam monasnya, ia ingin menuju tugu emasnya, ingin melihat semua kota jakarta dari atas.

Setelah bertanya kesana kemari encep pun masuk ke monas melalui jalan bawah tanah, tak lupa juga ia memotret semua keadaan disana. Untuk bisa naik ke atas monas harus melewati antrian yang panjang. Demi bisa naik encep pun. Rela mengantri. Setelah membayar karcis lalu mengantri lagi Sampai pada saat encep akan masuk ke Lift, lalu akhirnya petugas keluar dan mengumumkan bahwa lift akan diperbaiki karena rusak. Alhasil enccep pun tidak bisa naik ke atas puncak monas, orang orang kecewa, semua saling dorong, dan bertiriak .

Di area monas encep lalu membuka makan siangnya dan makan. Langit sudah gelap, encep terlalu lama mengantri tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 3 sore.

"Haduh geus sore. Can nelepon si ema. " Kata encep sambil mengodok saku celananya.
"Astagfirulloh... Hape encep mananya?.. Akhh! Aing mah pasti murag pas tadi ngantri da. Duh kumaha atuhnya."

Langit semakin gelap, tak lupa encep mencari mesjid untuk solat,n lalu encep pun melihat mesjid istiqlal , encep pun pergi ke istiqlal untuk solat ashar dan magrhib yang sebentar lagi akan tiba. Lalu encep pun solat ashar, lalu solat bejamaah maghrib dan isya.

Jakarta sudah gelap, perutnya sudah terasa lapar, ia pun makan nasi goreng untuk makan malam ini. Lalu ia bingunng harus tidur dimana?, apa harus tidur di hotel? Tapi harga hotel per malam pasti mahal. Encep tak mau menhabiskan uangnya untuk itu. Ia juga ingat pesan ayah nya kalau ia tersesat tinggal naik taksi dan akan dibayar di kampungnya. Tapi harga taksi ke kampung bisa berjuta - juta. Ia tak mau menyulitkan orang tuanya, apalagi ia gagal interview. Lalu ia melihat catatannya.

"Astagfirulloh, tas encep mana? Alah siah mana dijeurona aya cateutan encep daih." Ia pun panik lalu kembali ke istiqlal.

"Alah siah dimana tas encep, tadi teh didieu. Akhh! Aya aya wae, mana catetanna dina tas daih. Hape leungit , nyasar deuih, aduh gusti nu agung tulungan encep." Tangis encep di dalam masjid.

"Ayeuna encep sare dimananya?" Rengek encep yang sekarang mulai ngantuk sambil berjalan kebingungan.

Jam 12, ia masih berjalan - jalan tanpa arah. Encep melihat di seorang ibu dan anak kecil yang di emperan toko sedang bersiap siap untuk tidur. Ia menghampirinya ..

"Mau tidur disini juga? Boleh nak?... Saya masih punya kardus banyak disitu." Katanya sambil menunjuk ke arah kardus.
"Ini bang" kata anak kecil yang memberikan nya pada encep.
"Terimakasih de" katanya.

Lalu encep merebahkan badannya yang sudah kelelahan. Didepannya adalah sebuah bangunan besar yang biasa disebut Mall.

"Mah,,... Laper pengen makan" keluh si anak kecil,
"Sa tadi siang kan udah makan nasi. Besok lagi ya sa, besok pasti banyak bekas kardus dan koran, besok kan ada Inbox di depan. Kamu juga bakalan bisa nonton artis."

Tanpa pikir panjang, encep yang mendengar itu langsung pergi mencari makanan ia lalu membeli 2 bungkus nasi goreng untuk si ibu dan si anak yang bernama isha.

"Terima kasih nak, kamu baik sekali. Kamu mau kemana dan dari mana?" Tanya sang ibu yang sedang makan.

Encep menceritakan petualangannya di jakarta, lalu si ibu memberi tahukan jalan untuk sampai ke terminal Kampung rambutan. Tapi si ibu memberikan jalan menggunakan bis kopaja, bukan buswey, karena si ibu belum pernah naik busway.

***

Hari berganti, jam 5 pagi si ibu sudah membangunkan encep, lalu mengajaknya ke dalam mall karena akan ada panggung Inbox disana. Tak lupa si ibu mengajak encep solat subuh. Isha banyak bercerita tentang ayahnya, ayahnya sekarang kerja di rumah majikannya, sekarang ia dan ibunya sedang bingung mencari tempat tinggal, ia juga bercerita teantang idolanya. "Cherrybelle" . Dan idolanya itu sekarang akan ada di acara Inbox.

Acara pun dimulai, penonton disana sangat banyak dan penuh sesak. Isha lalu ia gendong agar bisa melihat sosok idolanya dengan jelas. Encep senang melihat isha tersenyum lebar bahagia. Lalu pada tengah acara, pembawa acara meminta satu penonton untuk naik ke atas agar bisa foto bareng cherrybelle. Tak pikir panjang encep dan isha mengacungkan tangannya, dan diikuti dengan penonton lain.

Agar ia dapat terlihat ia loncat loncat walaupun sambil mengendong isha di bahunya! Isha pun dengan semanggat mengacungkan tangannya. Akhirnya mmereka berdua dipilih dan naik ke atas panggung. Isha menangis karena bahgia di atas panggung.

"Mana kameranya? Biar saya fotoin" pinta andhika pembawa acara inbox.
"Hape saya ilang, isha gak punya hape." Kata encep
"Haduh gimana inih?" Teriak gading martin pembawa acara inbox.
"Ehh aku punya kamera polaroit di tas, bentar ya aku ambil" kata Anisa personil Cherrybelle.

Akhirnya encep dan isha dapat foto bersama cherry belle dengan kammera nya anisa dan fotonya langsung di peluk sama isha, lalu isha dipeluk semua personil cherrybelle. Isha senyum bahagia, di bawah, encep juga melihat ibu isha meneteskan air mata.

"Gimana rasanya encep? Dan isha? Bisa foto bareng cheRrybelle, langsung jadi lagi fotonya" kata andhika.
"Encep seneng, alhamdulillah. Encep boleh bicara ke mamah bapa encep di cianjur?" Pinta encep.
"ooh orang cianjur, sok Mangga, mangga..." Kata gading
"Mah, abah, encep didieu sehat, punteun teu masihan kabar, henpun encep na leungit. Tos tidieu encep lansung uih da mah, bah,.... Encep di bantosan ku isha sreng mamahna. Entos kitu." Kata encep sambil berkaca-kaca.
"Kalo isha ada yang mau di bilang ke kakak chibi?" Tanya andhika.
"Terima kasih" katanya, sambil pipnya memerah.
"Pokoknya isha harus semangat! Harus bantu mamah. Jangan lupa nanti sekolah kalau udah agak gedean dikit." Kata salah satu personil cherry belle.
"Harus jagaain mamah papah, harus bikin merka bangga. Satu lagi harus rajin solat dan rajin belajar." Kata anisa chibi.

Banyak pelajaran berharga yang ia terima selama ia berada di ibu kota. Setelah sarapan pagi bersama ibu dan isha, encep pun pamitan. Encep lalu naik kopaja, tapi karena ia salah turun, akhirnya ia kembali nyasar. Untung ada seseorang yang membantunya lagi.

"Bang kenapa bingung gitu? Eh abang yang kemarin di halte bus way, mau kemana lagi sekarang? Ke Monas lagi?" Tanyanya
"Eh, si akang nu kamari, abdi bade uih ka cianjur kang ayeuna bade ka terminal rambutan, " jawab encep.
"hyu atuh sareng, abdi bade ka kampung melayu, urang naek bus way. " Ajaknya.
"hyu atuh kang... Kang saha?"
"Irvan. Ari akang saha? "
"Encep."

Karena keberuntungan encep bertemu dengan Irvan, orang yang kemarin juga menunjukan jalan ke Monas.

"Kang encep, tipayunnya, kang encep mah teras we sampei keun ka kampung rambutan" kata pamitan lalu turuun dari busway.
"Nya nuhun kang irvan"

Akhirnya ia sampai juga di terminal kampung rambutan, terminal in sangat ramai apa lagi jam jam 11an seperti ini, matahari sudah ada di atas kepala, padahal kalau di cianjur, jam 11, burung masih bernyanyi, matahari mash sembunyi dibalik awan. Tapi disini bereda apalagi debu polusi yang kotor.

Banyak orang yang menawarkan bantuan, banyak yang menghampiri, bertanya mau kemana, tapi enccep bingung dan pergi ke pinggir untuk makan siang dan solat duhur. Setelah solat, lalu ia melihat di dalam mushola ada seorang pemuda yang kemarin mengajaknya ngobrol, dan ia bisa bicara bahasa sunda. Ia yakin orang itu baik, karene ia solat, pikirnya.

"Kang, upami bade ka cianjur naek bus nu palih mana nya?" Tanya encep.
"Eh si akang nu kamari. Kumaha interviewna ? Lancaar?" Tanyanya.
"Gagal kang, maalah nyasar." Jawab encep.
"Akhh! Can rejeki meren, ke cobaan dai we." Ceramahnya.
"Kang palih mana bus na nu ka cianjur." Tanya encep lagi.
"Ohh, itu nu palih ditu aya bus alit da, hyu ku sayah anterukeun"
"Saha kang nami na?" Tanyanya
"Encep kang, Nuhun nya kang,... "
"Kang Asep. Kin mun bade interview dai pilarian we sayah, taroskeun Asep Jablay kituh." Ceritanya
"Naha Asep Jablay?. Akang gigolo sugan?" Tanya nya polos.
"Haa... Lain, lantaran sayah mah rajin solat, soleh cenah ceuk baturmah, ngan mun di sebut asep soleh kan aneh . Jadi d sebut jablay, nu aslina teu jiga jablay kitu." Ceritanya lagi.
"Ohh..."

Setelah naik bus, asep pun seperti berbicara pada sopir, dan tak lama bus pun jalan. Sepertinya asep memerintahkan supir bus agar tidak mengetem.

Encep lalu sampai di terminal Rawa Bango cianjur. Setelah ia turun ia di sambut temannya Bagas.

"Alhamdulillah, nyampe oge, mun enteu sayah di gorok ku bapa encep." Kata bagas yang sudah seharian menunggunya.
"Ti tatadi diantosan lami kieu, cenah di tv rek langsung balik naha wayah kieu karek nepi?" Lanjutnya menggerutu.
"Ceritana panjang kang!"






Selesai.




__________________________________
Akhh! Aya aya wae
Gagas Alf.
(@gaagas August 12 2013)
gaagas.blogspot.com

cerpen; Pumpkin Muffin

Wajahnya memerah bercucuran keringat kerudungnya basah, dapur ini terasa 3kali lebih panas dari biasanya, uap panas dari berbagai makanan yang dimasak memenuhi dapur ini, matanya berkunang kunang, dia berusaha berjalan pelan, lalu dia kehilangan kesadarannya.

"Fit, lu udah bangun?"
"Lu sakit fit?"

Dia membuka mata yang masing buram, tanpa menjawab

"Fit, ini minum dulu.."

Ia meminum teh manis hangat itu, n ia baru jelas melihat bahwa temannya Andy dan Chintya yang ada bersamanya d sebuah klinik yang berada di area hotel tempat mereka bertiga melaksanakan PKL (Praktek Kerja Lapangan).

Suasana hari ini berbeda, dengan udara Dapur yang tak terlalu Panas, tidak terlalu banyak kompor di dapur ini lebih banyak oven yang besar, mesin - mesin pengaduk yang berukuran besar, dan warna warni dari gula gula dan coklat.

"Selamat datang di Pastry!" Teriak Chintya sambil memeluk temannya itu, fitri pun tersenyum.

"Selamat tinggal dari Kitchen, fit.." suara andy tersedu sedu yang dibuat buat.

"Kitchen sama Pastry cuman beda pintu aja, kapan aja aku pasti k situ" jawab fitri sambil menujuk k pintu Kitchen. "Ada bagusnya juga kemarin aku pingsan." Katanya pelan sambil tersenyum kecil.

Tepung, mentega, telur, coklat, keju sekarang menjadi teman temannya, sebelumnya Daging, Sayur mayur, ikan, bumbu - bumbu yang menemaninya. Ini memang cita citanya, bekerja di Pastry Hotel berbintang, walaupun sekarang ia baru PKL, kelak ia akan menjadi Pastry Chef.

Hotel memang sangat ramai kemarin, sehingga Dapur sangat sibuk sehingga membuatnya pingsan, apalagi ditambah dengan kondisinya yang kurang baik kemarin membuatnya drop. Tapi tidak dengan sekarang, hotel sepi oleh tamu Grup yang berjumlah Ribuan, sekarang hanya ada tamu indifidu yang paling hanya puluhan orang saja, itu berarti Fitri bisa belajar lebih banyak di Pastry, mencoba mebuat kue kecil, membuat roti dengan bentuk yang lucu dan membuat makanan lain.

Bu Nurul sebagai Pastry Chef di Hotel Prince dan pastry cook yang lain tidak terlalu repot memberitahu Fitri tentang segala hal teknik membuat roti, kue atau yang Lain, Bu Nurul juga kagum dengan keahlian fitri dalam menghias makanan menjadi cantik, sehingga membuat orang merasa tergiur untuk memakannya.

"Eeh,.. Ngapain kamu disini pagi - pagi gini? Biasanya juga kalau sore baru main kesini, sana kerja, jangan main terus!" begitu melihat Andy ada d Pastry.

"Sekarang aku di Pastry, jadi pas 3 bulan di Kitchen 3 bulan di Pastry, dari pada ada temen aku yang di Kitchen baru 2 minggu udah tepar.." Sambil melirik ke arah Fitri dengan senyum yang di paksakan.

Fitri tak menjawab, lalu langsung melihat ke papan untuk melihat apa saja yang hari ini dibuat dan ada berapa banyak tamu yang menginap.

"Becanda fit, jangan marah dong" andy mengahampiri Fitri dengan senyum manisnya.

"Tamu nya cuman Grup ini yang 100pax aja ya?"

Fitri masih diam dan masih membaca papan itu,

"Fit, kerudung kamu kayaknya gak lurus deh, aneh.." memandang dengan aneh pada Fitri, lalu ia tertawa tawa saat fitri membetulkan kerudungnya.

Abdul dan 2 orang Cook Pastry yang berada di Pastry juga tertawa kecil.

Seharian fitri berusaha tidak bicara pada Andy, kalaupun terpaksa ia hanya menjawab iya dan tidak. Ia ingin bercerita tentang hari ini pada temannya Chintya, tapi temannya itu masuk Shift sore sekarang, jadi terpaksa ia hanya mengeluh dalam hati.

Kenapa Andy terkadang bisa menjadi orang yang sangat menyebalkan, tapi terkadang ia menjadi orang yang sangat baik dan manis, selalu mengajarinya teknik memasak yang baik, tapi terus mengganggunya saat fitri sedang serius memasak. Kenapa juga ia selalu ada di pikirannya. Padahal sebelumnya ia tak pernah memikirkannya, bahkan di sekolah ia sama sekali tak mengenalnya karena beda kelas.

Sekarang senyum manis dan senyum jahil nya ada di otaknya membuat dia merasa aneh, senang, kesal, malu, lucu bercampur jadi satu. Dan yang paling membuatnya aneh, kenapa jantung berdebar tidak menentu saat dia ada di dekat lelaki itu. Bahkan saat ia melihat wajah tampan temannya itu ia merasa damai.

"Kamu belum tidur?" Tanya chintya saat ia pulang kerja jam 11malam.

"Belum, aku mau cerita,"

"Cerita apa fit? Pasti soal cowok ya?" tertawa kecil.

Fitri mengangguk

"Ada yang nembak kamu ya?" Goda Chyntia sambil duduk disebelah nya fitri yang sedang duduk di kasur nya.

Fitri mengangguk, "eh, kok kamu tau?" Tanya fitri bingung.

"Beneran? Siapa? Padahal barusan aku cuman nebak doang." Melihat wajah fitri yang memerah, lalu menynggol bahunya.

"Andy" jawabnya pelan.

Setelah pulang jam kerja, Andy mengantarkan fitri pulang ke kossannya sebagai permintaan maaf. Tapi ia tidak mengantarnya langsung pulang tapi mengajaknya ke kedai kopi, ia bilang ia harus meneraktirnya kopi karena mengantarkan pulang dengan motornya saja tidak cukup untuk menebus kesalahannya. Saat itulah Andy bilang bahwa ia ingin menjadi pacarnya. Ia juga bilang alasan kenapa ia pindah ke Pastry karena untuk bs dekat dengannya.

"Terus kamu jawab apa?" Tanya chintya penasaran.

fitri menggelengkan kepalanya.

"Kamu tolak?" Tanyanya kaget.

Fitri diam lalu menjawab "aku nggak jawab, aku bingung, aku takut, aku... "

"Aku senang." Kata chintya tiba-tiba sambil tersenyum menggoda.

Setelah bercerita pada temannya ia masih merasa bingung, paginya ia bertemu lagi dengan Andy yang menanyakan jawaban atas pernyataan cintanya, Fitri terlihat canggung, terbaca dari matanya bahwa ia susah tidur semalaman atau bahkan ia tidak tidur sama sekali, tapi bukan karena Chintya yang tidur mengorok, tapi karena ia memikirkan jawaban untuk orang yang sekarang ada di depannya.

"Aku bingung, aku gak bisa jawab sekarang." Jawabnya pelan.

"Ga papa Fit, sampai kapanpun aku tungguin, aku tau kamu sebenernya juga sayang ma aku, aku kn ganteng gini." Sambil membenarkan kacamatnya lalu tertawa yang dibuat - buat.

Fitri juga tertawa, ia melihat tawa Andy seperti orang yang sedih, atau seperti tawa yang menghibur diri sendiri. Setelah ia bercerita pada teman satu kamarnya chintya dan tidak tidur seharian, ia tidak memberikan jawaban pasti. Membuat Andy terlihat bingung, canggung, walaupun ia berusaha biasa saat bertemu dengan gadis berkerudung itu.

"Ehem, katanya ada yang baru jadian disini?" Teriak Abdul tiba - tiba saat mereka bekerja.

"Iyah nih, kok sepi ajah yah?" Melirik Fitri dan Andy yang kebetulan berdampingan sedang mengaduk adonan Muffin. Diikuti dengan Bu Nurul, dan Pa Gunawan yang berada di sana.

"Ehhemm.. Digantung" kata Andy sambil pura-pura Batuk ke sebelah kirinya . (Fitri disebelah kanannya)

Fitri hanya senyum, mukanya merah.

"aku ngerti kamu kok, gak usah dipikirin, kalau kamu udah siap aja, aku akan nunggu kamu kok" bisik Andy pada telinga Fitri yang disebelahnya.

"Ciyee.. Ehem ehem" teriak pa Gunawan yang melihat kejadian itu, Dilanjutkan dengan teriakan dan tawa yang memenuhi ruangan itu pagi ini..

6 bulan masa Praktek kerja lapangan sudah hampir selesai, tak terasa mereka bertiga (Fitri, Chintya, dan Andy) akan kembali ke sekolahnya SMK Sangkuriang Bandung. Tapi untuk mengakhiri masa Pkl ini ia harus membuat laporan tulis tentang kerjanya mereka 6 bulan ini, juga harus membuat satu resep yang berbeda, dan d persentasikan d depan Executive Chef dan General Manager Hotel.

Laporan tidak membuat mereka bertiga kebingungan, tapi yang membuat mereka bingung adalah satu makanan yang diciptakan oleh dirinya sendiri lalu di persentasikannya. Andy sudah punya makanan master piece-nya, fitri juga akhirnya punya kue yang ia kasih nama Colorful Forest cake, campuran antara black forest cake dan rainbow cake yang di siram Coklat mouse yang lembut.

Andy masih membantu Chintya menemukan resep yang pas, dan berbeda. Kedekatan itu membuat Fitri merasa yang ditebaknya sebagai rasa cemburu. Tapi kalau ia cemburu, berarti ia menyayangi Andy?, apa itu hanya rasa kecewa karena ia berharap Andy masih menunggu jawabannya seperti janjinya. Atau ia akan mengingkari janjinya dan berpaling pada sahabatnya sendiri, Chintya?

General manager datang masuk ke Pastry diikuti Executive Chef yang akan melihat dan menilai cara dan rasa dari makanan yang akan mereka bertiga akan buat. Mereka mulai mempersiapkan bahan lalu memulai membuatnya, setelah beberapa menit Bu Nurul memperhatikan ada yang sama dari bahan dan cara masak antara Chintya dan Fitri.

"Boleh ibu minta resep kalian berdua? Bahan makanan dan cara membuatnya kalian sama."

Chintya dan Fitri memberikan resepnya

"Colorful Forest Cake, buatan Fitri" "Colorful Forest buatan Chintya?" Teriak bu Nurul sambil memperlihatkan resepnya pada GM dan Chef.

"Jadi resep siapa itu? Siapa yang menjiplak?" Tanya Abdul dengan wajah sok marah, lalu d lihat dengan pandangan aneh orang - orang di pastry.

"Kalian d diskualifikasi. Kalau kalian karyawan saya, saya akan langsung pecat. Saya juga bisa tidak memberikan sertifikat pada kalian, tapi saya tidak kejam seperti itu, kalian akan mendapat sertifikat dengan nilai C. Karena kalian sudah membuat laporan kemarin dan Sebagai ucapan terima kasih kalian bekerja tanpa dibayar selama 6 bulan ini. " Jelas pa Dadang General Manager hotel Prince.

"Beri mereka kesempatan pa. " Andy tiba - tiba bicara.

"Saya rasa mereka harus d kasih kesempatan pa, selama ini mereka bekerja dengan baik, n hasil laporan kemarin juga memuaskan. hanya sepertinya resep ini di buat mereka bersama" bela Bu Nurul

"Saya punya ide, untuk memperbaiki nilai kalian, kalian saya tantang membuat makanan dengan bahan yang ada sekarang disini. Tapi sebelum kalian membuatnya kalian harus menulis resepnya dulu, baru setelah kita kira bisa di buat baru kalian buat." Jelas Pa Billy executive Chef.

Dengan cepat mereka melihat bahan bahan yang ada lalu mulai menulis, fitri melihat sebuah labu sisa membuat kolak, sedangkan chintya melihat pisang lalu menulisnya. Otak mereka seperti akan meledak dipenuhi dengan bahan yang akan mereka buat, n juga dipenuhi pertanyaan bagaimana ereka bisa membuat makanan yang sama?

Fitri memberikan resep nya Pumkin Muffin:

Bahan
• 3 cangkir tepung terigu
• 1 ½ 2 cangkir gula pasir + ½ cangkir gula palem (palm sugar)
• 2 sdt baking soda
• ½ sdt baking powder
• 1 sdt bubuk cengkeh
• 2 sdt bubuk kayu manis
• 1sdt bubuk jahe atau 1 sdm air perasan jahe parut
• 1 sdt garam halus
• 1 ½ cangkir pure labu kuning (haluskan daging labu kuning yang sudah dikukus, dengan garpu, atau food processor)
• 2/3 cangkir minyak atau minyak zaitun
• 3 butir telur ayam
Catatan : sebagai penakar, gunakan cangkir
yang berukuran 150 ml

Cara membuat
1. Panaskan oven 180° C, olesi cetakan muffin dengan sedikit minyak atau mentega. Atau gunakan mangkuk kertas untuk pelapis.
2. Dalam mangkuk besar, campur tepung, gula baking soda, baking powder, bubuk cengkeh, kayu manis, jahe dan garam.
3. Dalam sebuah mangkuk lain, campur pure labu kuning, minyak dan telur dengan menggunakan mikser, hinga bahan tercampur
rata.
4. Lalu masukkan dan aduk adonan labu kuning ke dalam campuran tepung dengan menggunakan sendok besar atau sendok kayu.
5. Sendokkan adonan ke dalam cetakan yang sudah disiapkan.
6. Panggang dalam oven selama 20 – 25 menit, hingga matang. Untuk memastikan muffin sudah matang, tusukkan tusukan gigi pada muffin. Jika tusukan tidak lengket, berarti muffin sudah matang, dan siap dihidangkan.
7. Oleskan cream cheese


"Bannana's pijama's buatan Chintya diterima, langsung kerjakan." Perintah pa Gunawan setelah mendapat persetujuan pa Dadang n pa Billy. "Pumpkin Muffin buatan Fitri juga diterima, cepat buat fitri!" Seru pa gunawan.

Andy sudah menyeleskan makanannya yang diberinama Fruits Bread. Roti kecil yang berisi buah, yang d bentuk sesuai buah yang ada didalamnya. Pa Billy, pa Dadang, pa Gunawan n bu Nurul sangat terkesan dengan roti kecil ini. Apalagi dengan rasa yang enak.

Makanan Chintya dan fitri selesai dengan bersamaan, semua yang mencicipi juga terlihat puas.terlihat dari senyuman mereka.

"Hasilnya akan kalian lihat d daftar Nilai d Sertifikat kalian minggu depan". Kata kata terakhir pa Dadang, lalu pergi.

Pastry lalu sepi, walaupun suara benda terdengar karena mereka sedang membereskan Dapur ini. Kesunyian juga berlanjut sampai k kamar kossan Fitri, fitri dan Chintya hanya diam dan langsung tidur.

4 hari terakhir mereka kerja terlewati dengan dingin, sunyi, sepi, beda seperti hari-hari sebelumnya. entah karena sedih atau karena Fitri dan Chintya belum bicara sama sekali. Sampai akhirnya fitri melihat Andy dan Chintya sedang bicara, lalu perasaan cemburu itu datang lagi. Dan sekarang terasa lebih sakit, mungkin karena ia merasa chintya mengkhianatinya, merebut resepnya, n merebut orang yang menyayanginya.

"Kalian ber dua masih marahan?, kalian kan satu kamar, gimana bs diem - dieman padahal kalian sahabatan." Andy bicara tiba - tiba saat di Pastry hanya ada mereka bertiga.

"Dia nyontek resep aku." Kata Fitri tiba-tiba.

"Gak ada yang nyontek, aku yang bantu chintya, aku juga yang ngasih nama," kata Andy

"Aku minta maaf, aku tau kamu meliat aku bodoh, cuman bisa nyotek sama andy, sampai bikin kamu cemburu." Cerita Chintya pendek.

"Cemburu?" Tersenyum bangga dan senang.

"Siapa yang cemburu?, aku cuman kecewa sama kamu. Kenapa kamu bs meniru resepku?" Tanyanya perlahan sambil menahan air matanya yang hampir keluar.

"Aku tidak menyontek resep kamu fit, aku diberi resep dari Andy. Karena aku tidak percaya dengan resepku sendiri" teriaknya yang setengah marah.

"Fit, itu resep aku yang aku kasih ke Chintya, dan entah gimana bisa sama dengan resep kamu, bahkan dengan ide dan nama yang sama." Jelas andi.

"Mungkin karena kalian berjodoh" jawab Chintya pelan yang membuat wajah fitri n andy memerah.

Hari terakhir mereka berakhir di Hotel Prince, fitri dan chintya menangis karena berpisah dengan teman kerjanya disini, teman yang banyak memberi mereka ilmu yang tidak didapat d sekolah.

Kebahagian semakin terpancar karena resep makanan mereka bertiga mendapat nilai tinggi, mereka bertiga mendapat nilai rata rata A. d hari terakhir ini, fitri membuat Pumkin Muffin special untuk Andy dan Chyntia. Didalam Muffin tersebut ada kertas yang bertuliskan;

YOU'RE MY BESTFRIEND
Untuk Chintya.

Dan,

YES, I DO
Untuk Andy.





Selesai.




__________________________________
Pumkin Muffin
Gagas Alf.
(@gaagas Aprl 12 2013)
gaagas.blogspot.com

cerpen; 1Rasa

"Aku tak bisa memilih, maafkan aku Vin, maafkan aku dam.."





Davin, aku harap kau mengalah untukku, tapi tak mungkin, aku mungkin sudah tahu dari awal kau juga jatuh cinta pada Arianna, gadis yang sangat kudamba. Lalu kau pun pergi arianna.

"Dam, ngapain diem disini sendirian,? Anna davin kemana?" Tanya Lily saat kembali ke mejaku.
"Eh dam, kita udah jadian" kata Nuel sambil senyum-senyum kegirangan.
"Sttt..." Kata lily. "Trus kemana mereka?" Lanjutnya.
"Pergi" jawabku pelan masih lemas .
"Susul ayo, emang ditolak ya? " Kata nuel asal.
"Ssstt... Ga mungkin, pasti diterima kan" tanya lily.

Kuputuskan untuk pulang. Tapi kedua sahabatku yang sekarang menjadi sepasang kekasih menyuruhku untuk berpamitan pada Anna. Aku tahu Anna pasti menerima Davin kalau saja aku tak mengucapkan cinta. Mungkin ia hanya tak enak saja harus menolakku. Mungkin nanti mereka akan menjadi sepasang kekasih. Dan aku harus siap menerimanya. Dan aku akan tetap menjadi sahabat mereka.

"Naa, aku pamit pulang dulu, maaf kemarin aku membuat kamu kaget dan bingung." Pamitku padanya, mungkin untuk terakhir kalinya
"Iya, maafkan aku dam, akuu..."
"Ya naa... Aku ngerti." Kata ku memotong perkataannya, sambil berjabattangan dengannya.

Ingin sekali kupeluk erat tubuhmu, tapi ku tak mampu. Ingin sekali air mata ini keluar, tapi ku tahan. Ingin sekali ku terus disini tapi tak bisa. Ingin sekali kau menjadi milikku tapi tak mungkin.

Libur masih panjang, tapi aku mmemutuskan untuk pulang. Kita bahkan baru Satu malam disini, tapi aku takan bertahan bila disini. Saat ku melangkah pergi kulihat seseorang membawa sesuatu di plastik yang bisa kuyakini itu adalah Donat.

"Dam, mau kemana?" Tanya Davin.
"Aku mau pulang dulu Vin, " jawabku
"Pulang ? Yakin? Pulang naik apa?" Tanyanya dengan wajah yang nampak berseri.
"Aku diantar Nuel, nanti Nuel balik lagi kesini Besok." Jawab ku lalu pergi.

***
Arriana,...
Terlalu lama ku pendam
Semua rasa ini padamu
Kini ku sudah tahu
Ku ingin kau tahu semua..
Aku lebih dulu mencintaimu
Aku lebih dulu mengenalmu
Bukannya dia..
Orang bilang
Cinta itu tak harus memiliki
Tapi ku ingin memilikimu
Memang tinggi egoku.
Seandainya kau pilih dia.
Aku bahagia ,mungkin...
Namun.. ingin ku miliki dirimu..
Demi cinta yang telah lama ku pendam
Aku mencintaimu...
Arriana...


Kuketik sebuah surat cinta untukmu, tapi hanya ku ketik di laptopku, tanpa kuberikan padamu. Liburan masih panjang, mungkin kalian disana sedang bersenang senang tanpa ku. Tapi itu lebih baik daripada aku bersama kalian dan melihat kebersamaan kalian, hanya membuatku sakit.

Nuel esok akan berangkat kembali ke bandung, apakah aku harus ikut? Lalu memperjuangkan cinta seperti halnya Davin yang selalu berjuang demi orang yang ia cintai.

"Besok pagi harus ikut ke bandung pokonya. Sekarang pikirin aja dulu, apa kamu rela ngeliat Davin jadian sama Anna?" Tanya Nuel.
"Dam, gerak dam! Jangan nyerah. " Gertaknya.

Apa yang harus ku lakukan? Tuhan, apakah ia jodohku? Apakah aku harus menunjukan rasa cintaku? Mungkinkah selama ini ia tak tahu, ia tak merasakannya?, ooh tuhan, berilah dia persaan cintaa, cinta padaku, bukan pada orang lain.

***

Aku memiliki Satu Rasa, Cinta. Rasa yang sangat aneh kurasakan, bisa manis, senang, pahit, sedih , sakit, bingung , takut.. Ya mungkin begitulah rasanya jatuh cinta. Dan yang sedang ku rasakan saat ini adalah sakit. Mungkin karena ia tak mencintaiku. Dan sakit karena mungkin ia akan memilih orang lain, Davin.

Telepon ku berdering, Nuel menungguku untuk ikut dengannya kembali ke bandung. Aku hanya diam di kamarku. Pintu ku pun di ketuk puluhan kali oleh nuel, hanya untuk mengajakku kembali ke bandung. Tapi aku ragu dan hanya diam.

"Damm!!... Buka pintunya!" Teriaknya.
Akhirnya pintu kubuka.
"Cepetan mandi . Jam berapa ini? Tar macet kalo kesiangan."
"El, aku gak akan pergi" jawabku.
"Yakin? Eh, lu punya game baru, gak bilang - bilang" katanya yang sambil memainkan laptopku.
"Kamu pergi saja sekarang. " Pintaku.
"Bentar gua main game dulu" katanya yang emang hoby main game.

Nuel pun pergi. Dan aku sendiri selalu teringat kata - kata Nuel dan Lily. Cinta harus diperjuangkan, kalau ia tak cinta buatlah dia jatuh cinta padamu. Jangan menyerah. Harus semangat.

Tapi raga ini lemah. Otakku sudah menyerah. Otak ku terisi dengan anna dan davin. Mereka berdua, bahagia. Aku tak rela. Ku tak akan rela. Apa yang harus kulakukan? Mebiarkannya?. Atau merubahnya? Masih ada kesempatan buatku. Lalu aku bangun, kuyakinkan jiwa dan raaga ku untuk pergi ke bandung. Memperjuangkan cintaku.

Setelah mandi, aku langsung berangkat dengan meminjam motor kakakku. Sampai akhirnya di Bandung. Di perjalanan sebelum rumah kostan anna aku berhenti di Pizza hut, aku tahu anna suka pizza, bukan donat.

Saat aku melihat rumahnya yang kelabu itu mendadak berwarna warni dihiasi lampu warna warni. Di halaman itu ada sebuah meja dan dua kursi yang diduduki Davin dan Anna. Aku berhenti. Dan mendekat tapi mereka tak sadar keberadaannku.

"Anna, aku jatuh cinta, sekali lagi maukah kamu jadi pacarku?.. Ini semua ku persebakhan untukmu" kata davin denagan kata kata romantis
"Maaf fin... Sebenarnya hati aku sudah terisi , bahkan dari dulu. Dan orang itu bukan kamu." "Maaf kalau selama ini aku seperti memberi harapan padamu. Hati aku sudah di isi oleh Adam."

Seperti tersambar petir aku kaget luar biasa tapi bahagia. Ternyata dia juga jatuh cinta, dan selama ini aku telah mengisi hatinya, seperti ia juga telah mengisi hatiku. Kita punya satu rasa yang sama, Cinta.

"Tapi mungkin dia tak sepenuhnya cinta aku, buktinya dia takut memperjuangkan cintanya, "

Ku langkahkan kakiku mendekat.

"Adaamm!!! " Teriak Lily yang ternyata sedang mengintip mereka.

"Adam..." Kata Anna, yang mengarahkan kepalanya ke arah Adam.
"Na, ini buat kamu. Pizza dengan ekstra keju" kataku.
"Makasih Na. Aku lega karena sudah bilang semua. Sekarang aku pamit pulang dulu ya. Na, Dam.." Kata Davin lemas
"Vin,..." Panggil anna..
"Aku gak apa apa na.."

Dan akhirnya kita mempunyai satu rasa yang sama CINTA. Cinta perlu di ucapkan. Cinta perlu di perjuangkan.

"Terima kasih dam, aku udah nerima surat kamu. Aku yakin kamu benar - benar cinta aku. Maaf aku sempat nolak kamu."
"Surat? Surat cinta?"
"Aku dapet pesan di Facebook tadi pagi."
"Nuel.."
"Kenapa?..."
"Eh enggak.."





Selesai

__________________________________
1Rasa
Gagas Alf.
(@gaagas Jun 20 2013)

cerpen; 2Hati


"Terima Kasih"


Kata itu kata terakhir yang kudengar, dan Kereta itu membawamu pergi, pergi jauh, kau jauh sekarang, tapi bahkan dari dulu kau jauh dariku padahal waktu itu kau berada di dekatku tertawa bersamaku tapi tetap terasa jauh, jauh dari hatiku. Entah harus berapa lama lagi rasa ini ku pendam, Entah harus berapa kata cinta lagi yang tertulis di hatiku, tanpa bisa ku ungkapkan. Setiap kali ku tatap fotomu, menyadarkankan ku betapa cantiknya dirimu, ingin rasanya aku bisa membaca matamu, adakah bayangan diriku di binar matamu. Adakah namaku terukir dihatimu...

Aku telah melewatkan kesempatan mengungkapkan isi hatiku padamu, entahlah mungkin aku memang lelaki yang paling payah di dunia ini, hanya untuk berkata jujur pun aku tak sanggup. Aku tak sanggup mengatakan 3 kata saja, aku cinta kamu...

Aku pulang ke rumah, dengan penuh penyesalan, mengapa bibir ini tidak bisa berkata kata. Mungkin aku takut, atau aku malu, atau aku bodoh, atau aku pengecut, atau semuanya.

Dunia, aku jatuh cinta, tanpa bisa mengutarakannya. Langit, ku ingin melihat nya. Awan lukislah wajahnya. Angin bisikanlah kata Cinta untuknya.

Telah lama ku berpisah dengannya, aku rindu. Apa kabar dirinya? Bahagiakah dirinya? Apakah aku harus menyusulnya? Kenapa untuk menanyakan kabarnya saja aku tak berani. Hanya menunggumu menghubungiku, sebagai sahabat. Dan mungkin itu sudah cukup. Setengah tahun sudah ku tak melihatmu, rindu...

"Hallo"
"Hai dam, besok ikut ke Bandung?" Kata Nuel d telepon.
"Ngapain?"
"Main ke si Anna lah. Kemarin si Lilly nelpon, dia gak ngajak lu apa?" Tanyanya tak pecaya.

Aku masih tertidur, ini libur panjang. Hari ini bebas dari perkuliahan yang membosankan. Sampai akhirnya Lily dan Nuel membangunkanku. Langsung mengajakku ke Bandung. Aku sebenarnya sudah menduga Lily akan melakukan ini, aneh rasanya apabila ia tak mengajakku pada orang yang aku sayang. Ku pakai Baju terbaik yang kumiliki yang tadi malam sudah ku siapkan.

Perjalanan sangat lama, mungkin karena aku sudah tidak sabar melihat wanita paling cantik di dunia, Arriana. Mobil Nuel melaju dengan pelan, atau itu hanya perasaanku saja, karena setiap menit melihat jam d tanganku yang lama sekali berputar.

Rumah tua klasik berwarna putih kelabu itu rumah sementaranya disini, banyak kamar di rumah besar ini, sampai akhirnya kita samapi d pintu yang terbuka dan bisa kupastikan itu kamar Anna karena tulisan Arriana tertulis di pintu. Tapi hatiku seperti jatuh, mungkin kaget d kamar itu ada wanita yang paling ku cinta dan temanku, Davin.

"Davin! Katanya gak bisa ikut." Teriak Lily tiba-tiba bahkan ia belum mengucapkan salam pada pemilik Kamar.
Davin tersenyum, Arriana menuju ke arah pintu dan mempersilahkannya masuk. "Hey, akhirnya dateng juga, silahkan masuk."
"Jadi kita mau main kemana? Belanja!" Kata Nuel yang baru duduk, Anna masih membuatkan minuman.

Aku cemburu, aku tahu itu. Aku sangat bahagia melihatmu baik baik saja. Tapi aku juga sakit, karena melihatmu dengan temanku Davin. Aku senang saat Nuel bilang Davin tak bisa ikut kesini. Sepertinya Anna sangat nyaman dengan Davin, ia selalu membicarakan Davin, mungkin aku tahu ia jatuh Cinta pada Davin, dan mungkin sebaliknya.

Aku takut, sebenarnya. Mungkin Davin dan Anna memang berjodoh, kalau itu benar, apa aku harus ikhlas? Sering kudengar Cinta tak harus memiliki. Tapi aku ingin memilikinya, ingin jadi ayah dari anak - anaknya.

"Belanja dulu baru makan" kata Davin yang sedang berjalan bersama kami.
"makan dulu aja. Lapar" Kata Nuel, yang langsung masuk ke Mc donald, lalu diikuti kami.

Kita makan berlima, pandanganku tak pernah lepas dari wajahnya. Sampai akhirnya Lily berbicara;

"An, kamu tahu, ada di antara ketiga lelaki disini ingin mengutarakan isi hatinya, aku udah tau dari lama dia mendam rasa cinta, tapi malu bilangnya , sekarang saatnya" Lily berbicara dengan jelas, tapi ketiga lelaki yang ada di meja itu tak seorang pun yang bicara.
"Siapa ?" Tanya Anna antusias.

Beberapa detik kemudian

"Aku Li, aku udah lama suka sama kamu. Dari dulu" kata Nuel dengan pelan dan ragu ragu, keringat dingin keluar dari dahinya.
"Yah itu sih aku tau, maksud aku bukan kamu Nuel," jawab Lily singkat.
"Kamu udah tau? Tau dari siapa?" Tanya nuel lalu mengarahkan pandangannya pada Adam sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Aduh Nuel, nanti udah ini aku jawab ya, kita empat mata aja" jawab lily singkat.
"Terus siapa?" Tanya anna.
"Aku.." Jawab Davin,
"Kamu suka sama Lily juga Vin?" Tanya anna.
"Aku suka sama kamu na.."

Hal yang paling aku takutkan terjadi, Davin mengutarakan isi hatinya pada orang yang aku sayang. Apa yang harus kulakukan, aku tak akan sanggup melihat mereka berdua meresmikan jalinannya dihadapanku. Mta Lily sudah memberi tanda agar aku mengatakan sesuatu, kakiku sudah berkali kali ditendangnya. Aku hanya diam seperti anna yang sekarang terdiam juga mendengar kata kata dari Davin.

"Maksud aku juga bukan kamu Vin, maksud aku Adam." Bilang Lily yang tiba tiba.
"Kamu suka ama Lily dam?" Tanya Nuel.
"Atau kamu suka ama Anna?" Tanya Davin.
Aku hanya terdiam
"Dam..m cepetan.." Suruh Lily.
"Hmm... Aku cinta kamu..." Kata Adam perlahan dengan nafas yang tak teratur seolah baru saja di kejar anjing .
Semua memandangku,
"Annaa..." Lanjutku pelan lalu menundukan kepalaku
"Nuel, kita pindah meja," kata lily sambil tersenyum bahagia karena pria idamannya akhirnya engutarakan cintanya.

Anna terkejut, ada Dua hati di hadapan nya, siapa yang akan dipilihnya? Aku sangat berharap dia menerima cintaku. Setelah bertahun tahun memendam rasa ini, akhirnya aku bisa bilang kata Cinta padamu. Hatiku berdebar dengan cepat, seakan akan meledak.

"Aku tak bisa memilih, maafkan aku Vin, maafkan aku dam.."






__________________________________
2Hati
Gagas Alf.
(@gaagas Feb 02 2013)