CLOUD MONSTER
Ikbal dan Ilham tinggal di sebuah kota besar dan modern. Seperti anak anak lain mereka menghabiskan waktu dengan bermain. Tak jarang sang adik menangis karena ulah kakaknya. Ibu mereka, Bu Setiawan terkadang lebih membela sang adik, Ilham. Dan memarahi sang kakak, Ikbal.
Bu Setiawan adalah seorang Single Parent, Suaminya Pak Setiawan sudah Meninggal 2 tahun lalu karena Penyakit yang menyerang otak. Membesarkan 2 anak Lelaki adalah hal berat baginya. Dia sering mendapat masalah akan kelakuan kedua anak nya itu. Seperti hari ini, ia mendapati anaknya yang berumur 5tahun, Ilham Menangis karena terjatuh saat mengejar kakaknya dan menggigil sampai keluar darah dari hidungnya atau mimisan karena kedinginan diajak berlari dan bermain air oleh kakaknya, Ikbal yang berumur 7tahun.
“balle!!...”
Langkah Balle langsung terhenti, ketakuan melanda dirinya, dia menoleh ke arah suara yang memanggilnya, lalu ia kembali berlari setelah mengetahui siapa yang memanggilnya. Ia terus berlari kearah Jalanan yng sepi. Ibunya mengejarnya, entah berapa jauh ia berlari, kini Langit mulai gelap ia berlari sangat jauh dari rumah kakeknya. Suara ibunya yang mengejarnya sudah tak lagi terdengar.
Langit masih belum hujan. Padahal dari tadi ia sangat mengharapkan turun Hujan. Sampai sampai ia membuat hujan buatan dengan selang dari air di rumah Kakeknya itu, menyiram nyiramkan air di halaman, berlari larian sampai membuat adiknya kedinginan dan kelelahan mengejarnya. Tapi langit sudah gelap terdengar kilatan Petir seakan menyerang Balle Berkali kali.
Awan bergerak aneh seakan semua awan yang berada di langit menyatu. melihat Sekumpulan awan menyatu menjadi gumpalan awan besar, gumpalan awan besar itu membentuk sebuah wajah seram dengan mulut terbuka, seakan hendak memakan sesuatu dengnan kilatan kilatan petir didalam mulutnya itu membentuk gigi menyeramkan.. Awan itu semakin lama semakin besar dan semakin mendekat ke arah balle berdiri. Ia pun ketakutan berlari menghindari awan besar dan petir itu itu, terus berlari, terdengar suara Petir menyambar besar sekali. Balle sampai ketakutan mendengarnya. Kelelahan lalu ia berhenti. hawa dingin langsung menerpanya, semua gelap, penuh kabut, mungkin ia tersesat di suatu tempat pikirnya. Ada hal aneh yang ia rasakan, Mata Balle diterpa udara dingin, hawa yang baru ia rasakan. Dia seakan melihat lorong putih. Semua Putih...
Tak ada jalan keluar, tempat berkabut ini belum pernah ia datangi sebelumnya, padahal balle sudah hafal tempat tempat dia sekitar rumah kakeknya itu. Tapi tempat ini aneh yang dilihatnya hanya sebuah tempat yang luas sekali, tempat yang seperti taman putih, karena semua yang terlihat hanya putih. Ia terus berjalan menyusuri lorong lalu melewati hamparan lapangan berwarna putih, seperti awan.
“Awan!”
ia berpikir, tentang awan Seram yang mengejarnya, ia tidak lolos dari awan itu, melainkan terperangkap didalamnya.
Udara semakin dingin, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan, ia hanya terus berjalan tanpa arah dan berharap menemukan jalan pulang. Ibu dan adiknya Sekarang pasti sudah pulang dari rumah kakek dan pasti sedang makan sup ayam hangat kesukaannya. Ia mulai lapar lalu menangis. Dari kejauhan ia mendengar suara Manusia, suara Dua orang anak manusia, dari suara yang terdengar, mereka sedang bertengkar. Balle pun mencari arah suara berharap mereka bisa menolongnya.
“Beperhepentipi! Japangapan kapau pipisapahkapan kepedupuapa apanapak ipitupu!” . (Berhenti! Jangan kau pisahkan jedua anak itu)
Balle Kaget ada suara yang bernada tinggi dengan bahasa yang ia tak mengerti dibelakangnya saat ia hendak mendekati kedua anak yang bertengkar. Ia membalikan badannya ke arah suara yang membentaknya itu, tak ada manusia di belakangnya melainkan sesosok Putih yang bahkan ia tak tahu apa yang ia lihat. Sosok itu seperti gulali kapas yang besar, tingginya lebih kecil 2/3 dari tinggi badan Balle, berbentuk seperti boneka Beruang berwarna Putih yang tidak memiliki leher, hanya terlihat kepala yang menyatu dengan badan badannya dan lekuk kaki dan tangan pendek. Mahluk yang sangat aneh.
“Kamu yang berbicara?” Tanya Balle kebingungan, sosok Putih itu mengangguk dengan raut muka yang menyeramkan. “kamu Mengerti apa yang aku tanyakan?”
“ipiyapa. Sapayapa apadapalapah Galf apawapan Lawan” (Iya. Saya adalah Galf awan Lawan / penghuni awan bernama Lawan) Jawabnya, terlihat kecewa melihat kedua anak yang bertengkar tadi mendekatinya.
“Apa?” Tanyanya lagi tak mengerti dengan apa yang mahluk itu katakan.
“Dia bilang dia Galf Lawan.” Jawab salah satu anak berperawakan besar . Menghampiri Balle dan nampak melupakan pertengkarannya.
“Galf? Apa Itu?” tanyanya “oh iya dimana kita?” seakan baru sadar itulah pertanyaan yang dari tadi ingin ia tanyakan.
“kita di Awan!. Galf adalah penghuni Awan. Dan yang ini Galf Lawan.” Jawab seorang anak yang lebih kecil menjelaskan. “eh kemana dia.” Menyadari mahluk aneh itu telah pergi.
“Kita berada Di Perut Monster Awan.” Jawab anak besar yang pertama. “Siapa kau? kau pasti baru dimakan oleh Monster awan ini kan. Aku Rizk, dan dia Tian. aku sudah 5 hari disini, dan dsini menyenangkan.”
“Aku Balle”
Mereka berjalan ke suatau arah setelah Balle bilang pada mereka bahwa perutnya lapar sekali. Tian Menjelaskan bahwa di Perut Monter Awan ini hanya ada 2 Galf awan yaitu Galf Lawan dan Galf Kawan. Mereka tinggal di Istana Awan kembar. Istana yang besar untuk dihuni hanya 2 mahluk kecil seperti mereka. Rizk mengaku pernah masuk ke Istana nya Galf Lawan, dan disana banyak barang barang aneh.
Pohon pohon tumbuh di perut monster awan ini, seperti taman atau kebun. Ada pohon yang pendek dengan buah berwarna Ungu muda pucat, ada pula pohon yang lebih tinggi dengan buah berbentuk seperti anggur tapi berwarna hitam. tentu saja semua pohon disini berwarna putih, tapi terlihat beberapa seperti buah berwarna warni berbentuk aneh. Tak jauh dari pohon pohon aneh itu mengalir sungai kecil yang sangat dalam. Setelah melihat kedua teman barunya itu memakan buah warnawarni berbentuk aneh itu, ia pun mengikuti apa yang dilakukan Tian Dan Rizk. Buah ini seperti kembang gula yang rasanya Enak, sangat enak. Setiap buah rasanya sesuai dengan apa yang ia ingin rasakan. Ia membayang kan sup hangat buatan ibunya, dan anehnya buah itu memiliki rasa seprti sup ayam kesukaannya. Ini adalah tempat ajaib.
“Ini Enak!. “ teriak balle pada Rizk dan Tian. Sambil terus makan buah buah berbagai rasa itu. “kenapa rasanyasama dengan apa yang kita pikirkan?” tanya Balle.
“entahlah. Itu masih menjadi misteri. Dan masih banyak Misteri di sini.” Jawab Tian lalu membungku ke sungai kecil untuk minum. Lalu menjutkan ceritanya seolah teringat sesuatu “kau Tahu, Rizk Pernah muntah gara-gara ia berpikir buah ini tidak enak.” Katanya sambil sedikit tertawa. ‘itu karena kau tak percaya padaku Rizk.”
Mendengar itu Rizk tampak marah lalu mendekati Tian. “sudah! Kita jangan bertengkar. Kita harus cari jalan keluar dari sini.” Cegah Balle memisahkan Rizk dan Tian. “bagaimana Kita Keluar dari Perut Awan ini?’
“Kata Galf Kawan kita harus menunggu sampai banjir datang, dan kita harus memegang payung pelangi, sambil berjanji" jelas Rizk sambil mengeluarkan payung berwarna pelangi kecil sebesar bollpoint dari sakunya.
“Berjanji? berjanji apa? Lalu kapan banjir itu datang?” Tanya Balle antusias juga kebbingungan melihat benda yang baru saja Rizk tunjukan, ia lalu mengambil payung itu mengamatinya.
“Kita harus berjanji kita tidak akan nakal dan akan berbuat baik pada semua orang. Banjir itu akan datang beberapa hari lagi.” Jawab RIzk. Dengan nada bicara yang bijaksana. Lalu ia melanjutkan “pasti ada alasan kenapa Kau bisa disini. Hanya anak anak nakal yang berada disini. Aku pernah mendengarnya dari temannya temannku, ku pikir ia menakutnakutiku. Tapi ini terjadi padaku. Andai saja aku tahu bagaimana caranya dia lolos dari sini. Waktu itu aku langsung pergi karena tak percaya padanya.”
“Tapi kata Lawan kita harus tetap di sini, saat banjir datang, Lawan sudah memberi ku pelampung supaya aku tidak tenggelam.” Kata Tian tiba - tiba. “katanya kau akan mati tenggelam kalau kau tak pakai pelampung. Dan itu lebih masuk akal menurutku. Dia berjanji akan memberitahuku bagaimana keluar dari sini setelah banjir datang.” Jelas Tian lalu mengeluarkan benda seperti buku yang ternyata adalah karet pelampung yang belum di tiup.
“Lalu aku harus percaya pada siapa?” Tanya Balle. Semakin kebingunganmelihat Dua benda aneh yang di pegang Kedua temannya.
“Aku tak tahu. Aku juga masih bingung” jawab Tian. “Tapi aku punya keduanya” mengeluarkan payung pelangi juga dari saku yang lain.
“Kalau aku percaya pada Kawan”Jawab Rizk.
Perut mereka sudah terisi, perut awan sudah gelap tak lagi seputih saat balle pertama masuk ke Perut Monster ini. Tian bilang itu tandanya bahwa sudah waktu malam. Dan kalau malam datang yang tak terlihat apapun. Dan akan sangat bahya apabila malam malm berkeliaran. Balle diajak ke suatu tempat yang lebih tinggi. Tempat yang seperti padang pasir putih. Dengan pasir putih selembut kapas. Disanalah mereka tidur.
xxx
Dengan diselimuti pasir kapas putih Balle pun Tidur dengan nyenyak sekali. Ia melihat Ilham sedang dipakaikan Bjau oleh Ibunya, lalu mereka berdua menghampiri Balle, lalu dari kejauhan ada Kakek dan Neneknya yang mendekat. Balle senang Sekali ternyata monster Awan yang ia alami hanyalah mimpi buruk. Ia melihat ibu memakai baju kantornya, ilham memakai seragam TK nya. Kakek dan neneknya menghilang tiba tiba. Ibu nya semakin menjauh, Ilham berlari mengikuti langkah ibunya, Balle pun memanggil Ibunya, Tapi ia tak kembali. Semakin menjauh dan menghilang.
“Ilham...”
Seseorang menggoyang goyangkan badannya, Ilham mungkin membangunkannya, Ia senang semuanya hanya mimpi, dan ia akan bangun di tempat tidurnya yang hangat, dan diteriaki oleh adiknya Ilham. Ia membuka mata... langit sangat cerah, tapi tidak sehangat di kamarnya, masih dingin. Tak ada Ilham disana, yang ada adalah 2 orang yang telah ia kenal kemarin. Dan kemarin bukanlah mimpi. Bayangan ibu dan adiknya barusanlah yang mimpi.
“kau baik baik saja? Kau pasti mimpi Buruk. Kau memanggil manggil Ibumu. Aku juga rindu ibuku. Kalau saja aku tak melemparkan makanan padanya aku mungkin tak akan berada disini.” Tanya Tian terlihat sedih merindukan keluarganya. “aku sangat menyesal, Satu Minggu aku Disini menunggu Banjir Besok lusa.” Air mata menetes di pipinya lalu diusapnya.
“lusa? Tapi aku belum Punya pelampung ataupun Payung pelangi.”
“Aku Bisa mengantarmu ke istana kembar Awan. Tapi sebelum itu kita makan dulu.” Kata Rizk. “kalau saja Buah awan itu bisa membuat rasa yang belum pernah kita coba, aku ingin sekali mencoba coklat icecream strawberry yang pernah ku liat di TV tp sayang buah itu jadi tak ada rasanya,..”
“kau makan terus apa tindak sakit perut?” tanya balle serius.
“ah, kau belum tau ya kalau kita tak akan sakit perut disini, aku belum pernah buang air keci sekali pun dari pertama kali aku disini. Aneh sekali.” Jelas Rizk pada Balle. “ayo kita berangkat sekarang. Tian kau juga seabaiknya ikut”
Pemandangan semakin aneh terlihat dalam perjalananya menuju istana awan Kembar. Setelah meliha pohon pohon aneh, sungai kecil dalam dan panjang, padang apsir awan yang ia pakai untuk tidur, sekarang yang ia lewati seperti taman bunga berbetuk aneh pula. Semua putih seperti tempat lain, tapi bunga ini seperti tebuat dari gabus putih. Semakin lama semakin jauh , semakin dingin pula hawa yang terasa, tempat istana itu seperti berda di bawah, karena langit putih tadi menjadi semakin kelabu. Seakan semakin menjauh dengan matahari.
“apa masih jauh?” tanya Balle yang mulai lelah berjalan.
“harusnya berada disana” tunjuk Rizk. Dekat gunung berbentuk angka delapan itu”
“Istananya memang tidak selalu disana kan. Galf kawan pernah memberitahu aku.” Jawab Tian “kita tunggu saja disini.” Usul Tian. Yang langsung disetujui oleh kedua lainnya.
“sepedapang apapapa kapamupu dipisipinipi?” (sedang apa kamu disini?) tanya sebuah mahluk yang mirip dengan mahluk yang kemarin Balle lihat. Tapi mahluk yang sekarang ini memili tinggi yang lebih pendek dan memiliki tangan dan kaki yang lebih panjang.
“kau apsti Galf Kawan ya?” tanya balle refleks
“Ipiyapa, daparipimapanapa kapamupu tapahupu?” (Iya, drimana kamu tahu?) Tanya Galf Kawan.
"Katanya, kamu tau darimana?" Jelas Tian. “hapalopo” (halo) kata Tian mencoba bahasa aneh Awan.
"Kata mereka disini ada 2 kurcaci Galf, Lawan dan Kawan, aku sudah melihat Galf Lawan, berarti kamu Galf Kawan kan?" “aku ingin tanya Banyak Hal” kata balle antusias yang sudah menyiapkan banyak hal untuk ditanyakan.
Mengobrol dengan peri Kawan, sambil mepelajari bahasa Awan. Sampai akhirnya ia mengerti sedikit - sedikit bagaimana bahasa Awan itu. Iya mengerti bahwa dalam Bahasa awan suku kata nya hanya ditambahkan huruf 'P' lalu d ikuti huruf vokal suku kata tersebut. Seperti ba menjadi bapa, Bi menjadi Bipi, a jadi apa, contoh; AKU : A dan KU, A-apa dan KU-kupu jadi AKU adalah ApaKupu. Balle belajar dengan cepat sehingga rizk dan Tian tidak repot menterjamahkan apa yang di ucapkan Galf Kawan.
“apakupu tipidapak mepenjepelapaskapannyapa. Ipitupu rapahapasipiapa apawapan” (aku tidak bisa menjelaskannya. Itu Rahasia awan) katanya lembut ketika balle menanyakan hal tentang bagai mana perut ini bisa terbentuk.
Setelah banyak berceritan tentang tempat aneh ini, ia punmenanyakan soal jalan keluar dari perut awan ini pada Galf Kawan.
“Kawan, bagai mana cara keluar dari sini?” Tanya Balle akhirnya
“Kapamupu haparupus sapadapar kepenapapapa kapamupu beperapadapa dipisipinipi. Moponsepeteper Apawapan hapanyapa mepemapakapan apanapak - apanapak napakapal.” (Kamu harus sadar, kenapa kamu berada disini. Monster awan hanya memakan anak anaik nakal) Jelas kurcaci Kawan pelan pelan agar Balle mengerti.
“Aku tidak Nakal.” Sanggah Balle. Yang langsung mengerti tanpa menunggu Rizk atau Tian mengartikan.
“Bepesopok Lupusapa apakapan apadapa Bapanjipir bepesapar, kapamupu haparupus mepemepegapang papayupung sapambipil beperjapanjipi tipidapakk apakapan napakapal lapagipi.” (Besok lusa akan ada banjir besa kamu harus memegang payung sambil berjanji tidak akan nakal lagi.) Jelas kurcaci Kawan dengan lembut.
“bopohopong, kapamupu haparupus mepemapakapai pepelapampupung sapaapat bapanjipir dapatapang, dapan japangapan beperjapanjipi apapapapupun, papayupung apakapan mepembupuapat kapamupu tepenggepelapam dapan mapatipi." (Bohoong! , kamu harus memakai pelampung saat banjir datang dan jangan berjanji apapun, payung akan membuat kamu tenggelam dan Mati) Kata Kurcaci Lawan tiba – tiba datang dari arah depan. Yang bersamaan dengan datangnya 2 Istana Besar yang Balle yakini adalah Istana Kemabra Awan.
“Dimana aku dapat payung dan Pelampung itu?” Tanya Balle.
“Ipinipi” (Ini!) kurcaci Kawan mengeluarkan payung kecil.
“Japangapan teperipimapa papayupung ipitupu, bapawapalapah pepelapampupung ipinipii supupapayapa kapamupu tipidapak tepenggepelapam.” (Jangan terima payung itu, bawalah pelampung ini, supaya kamu tidak tenggelam) Perintah kurcaci Lawan mennyerahkan pelampung yang terlipat rapi hingga menjadi kecil.
“Bawa aja keduanya, aku juga punya dua-duanya!” Teriak Stian.
“terima Kasih” Balle pun menyimpan kedua barang itu dan menyimpan nya di saku celananya. Kedua kurcaci Galf kecil yang berbetuk gumpalan awan itu pun pergi. Tempat mereka berada mulai berwarna Gelap, ternyata sudah larut sekali sekarang mereka pun kembali untuk makan dan tidur.
xxx
Keesokkan harinya perut monster awan sudah kembali cerah dipenuhikabut putih. Ketiga anak ini mengabiskan waktu sambil bermain. Walaupun kadang mereka bertengkar. Gumpalan awan atau tanah putih yang mereka injak sudah terasa basah.
"Stian, Rizk, lihat tanah awan nya basah, dan mungkin akan banjir besok." Teriak Balle pada Stian dan Rizk. Melompat lompat ditanah awan itu.
"Akhirnya, aku sudah tidak sabar menunggunya. Apa yang akan kau pakai Balle?" Tanya Rizk
"Entahlah aku bingung." Jawab Balle jujur.
"Lihat, Sungai itu!" Teriak Stian menunjuk ke arah sungai kecil tempat biasa mereka makan mulai melebar, menjadi sungai yang deras.
Setelah makan, Balle meninggalkan Stian dan Rizk mencari Galf Kawan dan Lawan. Untuk meyakinkannya benda mana yang harus ia pakai. Setelah berjalan beberapa lama, akhirnya Balle menemukan Istana Kembar Awan. Istana itu besar sekali. Dengan 2 Gerbang besar didepanya. Balle mendekat Gerbang itu 4 kali lebih Besar dari dirinya. Ia tak berani masuk kesalah satu pun gerbang itu. Hingga salah satu gerbang sedikit terbuka, dan Balle pun memasuki salah satu Gerbang Istana Awan Itu.
Di dalamnya sangat luas dengan Kursi Kursi bebentuk aneh, Meja yan lebih mirip dengan pintu, ada pula sofa berbentuk perahu yang lketika Balle duduk sangant Lembut Sekali. Galf Lawan menghampiri lalu duduk di sebuah yang di kira Balle sebelumnya adalah Karung Beras, ternyata itu adak kursi nyaman Galf Lawan karena ketika ia Duduk< kursi itu mengikuti lekuk bedan Galf Lawan.
“Supudapah Kapamu puputupuskapan? Bepesopok kapamupu apakapan mepemapakapai pepelapampupung daparipikupu kapan?” (Sudah kamu putuskan? Besok kamu akan memakai pelampung dariku kan?) Tanya kurcaci Lawan dengan suara sombongnya.
“Kenapa aku harus memakai pelampungmu?” Tanya Balle langsung tanpa basabasi.
“Copobapa kapamupu pipikipir, apapapakapah papayupung kepecipil bipisapa mepenyepelapamapatkapan mupu daparipi bapanjipir bepesapar?” (Coba kamu pikir, apakah payung kecil itu bs menyelamatkan mu dari banjir besar?) Tanya kurcaci Lawan.
Balle terdiam.
“Bapanjipir bepesapar bepesopok apakapan mepembupunupuh kapalipiapan, kapalapau kapamupu mepemapakapai pepelapampupung kapamupu apakapan sepelapamapat.” (Banjir besar besok akan membunuh kalian, kalau kamu memakai pelampung, kamu akan selamat.) Jelas kurcaci Lawan.
“Lalu bagaimana aku keluar dari tempat ini?” Tanya Balle semakin bingung ingin tahu bagaimana sebenarnya cara ia keluar dari Perut Monster ini.
"Kapamupu hapanyapa haparupus bepersapabapar, napantipi Moponsepeteper apawapan apakapan mepengepelupuaparkapan mupu kapalapau supudapah apadapa apanapak pepenggapantipi kapamupu." (Kamu hanya harus bersabar, nanti monster awan akan mengeluarkanmu kalau sudah ada anak pengganti kamu" jelas kurcaci Lawan memastikan.
Balle Berpikir Dalam Diam.
“kapamupu tipidapak peperlupu pepergipi, dipisipinipi sapangapat mepenyepenapangkapan. Sepetepelapah bapanjipir apakapan apadapa apanapak yapang dapatapang. Dapan kapamupu tipinggapal kepembapalipi kepe tepempapat kapamupu dapatapang. Dapan bipisapa pupulapang.
“ (kamu Tidak perlu pergi. Disini sangat menyenangkan. Setelah banjir akan ada anak yang datang . dan kamu tinggal kembali ke tempat kamu datangdan bisa pulang.) jelas Galf Lawan sambil Tersenyum kecil.
“benarkah?. Aku tinggal kembali ke lorong tempat pertama aku datang . baiklah.” Katanya denngan semangat seakan menemukan kunci dari pintu yang selama ini mengurungnya.
Saat kembali ke Pohon Pohon tempat mereka makan sudah mulai tergenang air. Bahkan pohon pohon kecil sudah tak terlihat, arus sungai sudah semakin besar. Kata Tian itu tanda bahwa besok banjir akan datang. Mereka makan hanya dari pohon pohon mereka raih saja. Rizk terlihat Bingung Melihat Balle yang menghilang Seharian.
Rizk dan Tian masih tampak bingung akan menggunakan benda apa besok saat Banjir datng tapi Balle terlihat yakin dengan apa yang akan dia pakai.
xxx
Pagi datang, ketiga anak ini terbangun dari tidurnya karena air sudah semakin pasang. Mereka kebanjiran. Stian mengeluarkan payungnya. Rizk juga mengeluarkan Payungnya. Sedangkan Balle meniup pelampunya.. Stian dan Rizk berteriak - teriak sambil berjanji untuk tidak nakal lagi.
"Aku janji tidak akan berkelahi, akan nurut sama mamah papah, tidak akan menjaili adik lagi, akan rajin." Teriak Tian yang sekarang air sudah sampai dadanya dengan cepat dan deras.
"Aku janji tidak akan nakal lagi, tidak akan berbohong lagi, tidak akan menyusahkan mamah papah, akan membanggakan mamah papah." Teriak Rizk sambil menangis menahan dersnya air dan hampir tenggelam. Air bah datang dia semakin tertariktarik ombak sampai mulutnya banyak menelan air.
“mamah...” teriak Tian yang tergulung air dan bereda semakin menjauh dari kedua orang yang lain. “tolong..” teriaknya lagi saat kepalanya menyebul lalu tenggelamkembali.
Banjir berombak dengan air dan banyak halilintar semakin membuat Balle taku dan Sedih. kedua temannya sudah tak terlihat bahakan kepalanya sudah takterlihat , mereka pasti sudah tenggelam. Petir menyambar dari sana dan sini. Balle tak tahu kapan ini akan Berakhir. banjir besar ini telah menenggelamkan Stian dan Rizk. Apakah mereka mati tenggelam atau justru selamat dengan bantuan payung itu. Tapi payung tak menyelmatkan mereka. Setidaknya itulah yang Balle lihat, sedangkan sempai saat ini Balle masih Hidup karena bantuan Pelampungnya.
“Kepenapapapa kapamupu mepemapakapai pepelapampupung?” (Kenapa kamu memakai pelampung itu?) Teriak Galf Kawan dari Istana Kembar yang terlihat hanya 2 ujung menaranya yang sangat tinggi.
"Bapagupus, lipihapat kepe dupuapa apanapak ipitupu mapatipi tepenggepelapam, kapamupu apakapan sepelapamapat !!" (Bagus, lihatlah kedua anak itu mati tenggelam, kamu akan selamat) teriak kurcaci Lawan yang berada di menara yang satunya..
"Bapanjipir beperipikuputnyapa apakapan lapamapa sepekapalipi dapatapangnyapa." (Banjir berikutnya akan lama sekali datangnya.) Teriak kurcaci Kawan.
Banjir besar, halilintar, Petir, membuat tubuh Balle melemah dan Balle pun Pingsan di pelampungnya. Saat ia tersadar banjir telah surut. Ia sedih berpikir bahwa Tian dan Rizk mati Tenggelam. Balle bingung apa dia harus senang atau sedih. Ia masih hidup. Tapi ia masih berada di tempat aneh ini. Ia hanya ingin segera menemukan orang yang akan menggantikannya, dan bisa pulang kembali ke rumahnya. Sekarang pasti ibu dan adiknya sangat Khawatir karena ia belum pulang berhari hari...
Seharian ia mencari orang yang dikatakan Galf Lawan akan menggantikannya ketika banjir reda. Ia kembali ke tempat ia datang, sebuah lorong putih panjang. Tapi lorong itu tak juga ia temukan. Ia hanya berputar putar di sekitar taman bunga aneh lalu kembali ke kebun dengan sungai yang sekarang sudah mengecil, pohon pohon pendek nya pun sudah terlihat kembali. Lalu ia makan disana, membayangkan makanan makanan yang selalu ia makan bersama dengan ibu dan adiknya. Sekarng inilah ia sangat sangat merindukan keluarganya. Merindukan ibu ny, adiknya, kakek dan neneknya.
Langit putih mulai gelap. Ia merasakan perasaan yang sangat bersalah kepada ibunya, adiknya, dan kakek neneknya. Ia selalu menjahili adiknya hingga menangis. Membuat ibunya berlari lari sampai ibunya kelelahan. Juga menyembukan sendal atau tongkat kakek dan neneknya. Ia sangat sadar betapa jahatnya dirinya. Ia menangis sambil berteriak memanggil ibunya, adiknya,...
“Balle!” teriak seseoprang dari belakang Balle. Balle menengok, dan terlihat seorang anak memakai baju seragam sekolah. Orang itu tampak tak asing baginya. Dia adalah teman sekolahnya, Alva.
”Alva!” teeriak Balle Bahagia, karena ada orang yang menggatikannya.dan bertekad besok akan mencari lorong tempat ia pertama datang dan kembali ke rumah.
Keanehan tempat itu ia ceritakan pada temannya Alva. Seperti Tour Guide yang mengantarkan tamunya. Alva juga langsung bertemu dengan Galf Lawan dan Galf Kawan. Ia juga sudah diberi pelampung dan payung untuk dipakai saat Banjir yang akan datang Satu minggu lagi. Ia menjelaskan tentang makanan, minuman di Perut Monster ini, serta keanehan lain seperti ia tidak merasa sakit perut atau ingin buang air kecil atau besar. Setelah menjelaskan sambil makan selesai. Balle Mengajak Alva ke Padang Pasir Kapas putih tempat ia tidur. Setidaknya tempat itulah yang paling hangat.
Langit gelap, balle sudah tak sabar menunggu esok, untuk kembali ke lorong putih, dan ke,mbali kerumahnya. Ia hanya berdoa semoga malam akan berlalu dengan cepat.
xxx
“Balle?? .. Balle!..” teriak Alva mencari Balle yang ketika ia terbangun Balle sudah tak ada di sekitarnya
Setelah meninggalkan Alva untuk mencari Lorong pertama kali ia datang. Akhirnya ia kembali ke tempat itu. Tapi tak ada apa apa disana. Tak ada pintu atau jalan menuju rumah, lorong itu terus membuatnya berputar putar. Bingung Balle yang kecewa dan marah pergi ke Istana Kembar Awan. Tapi belum sampai ia bertemu dengan Galf Kawan di tengah Jalan.
"Kapamupu supudapah mepengepertipi kepenapapapa kapamupu beperapadapa dipisipinipi?"
(Kamu sudah mengerti kenapa kamu berada disini?) Tanya kurcaci Kawan yang datang menghampirinya.
Balle mengangguk. Ia mengerti semua karena kesalahannya sendiri.
"Bapanjipir sepelapanjuputnyapa saptupu mipinggupu lapagipi, ipitupu apakapan sapangapat lapamapa, apapa lapagipi kapamupu hapanyapa sependipiripi dipisipinipi."(Banjir selanjutnya satu minggu lagi, itu akan sangat lama, apalagi kamu hanya sendiri disini) Jelas kurcaci Kawan.
“tapi kata Lawan aku akan bisa pulang. Ketika ada pengganti ku. Dan sekarang sudah ada penggati aku, tapi aku masih saja disini. Aku sudah kembai ke lorong tapi tak ada jalan keluar seperti yang di bilang Lawan disana.” Jelas Balle dengan sedih. "Apa Stian dan Rizk mati tenggelam? " Tanya balle.
‘Tipidapak meperepekapa tipidapak mapatipi. Meperepekapa pupulapang keperupumapahnyapa. Kepenapapapa kapamupu tipidapak mepemapakapaipapayupung daparipi apakupu? “ (Tidak mereka tidak mati, mereka pulang k rumah. Kenapa kamu tidak memakai payung dari aku?) jawab nya sambil lalu bertanya..
"Lawan bilang aku harus disini sampai ada yang menggantikan aku. Kalau aku memakai pelampung aku akan selamat dan tidak tenggelam. Dan kalau sudah ada orang yang menggantikan aku aku tinggal datang ke lorong tempat aku pertama datang. Tadi aku sudah kesana, tapi tak ada apapun disana" Jawab Balle sambil menangis..
"Sipi Lawan mepemapang japahapat, kapamupu japangapan pepercapayapa papadapanyapa. mupungkipin dipisipinipi epenapak bipisapa mapakapan sepepupuapasnapanyapa, bipisapa mapaipin sepeepenapaknyapa, tapapipi kepehipidupupapanmupu bupukapan dipisipinipi Balle " (Si lawan emang jahat, kamu jangan percaya padanya, mungkin disini enak, bs makan sepuasnya, bisa main seenaknya, tapi kehidupan mu bukan disin balle.) Jelas kurcaci Kawan lembut.
“harusnya aku tak mempercayai Lawan.”
“Balle. Darimana saja kamu, aku mencari kamu. Aku ketakutan disini sendirian. Jangan tinggalin aku sendirian.” Pinta Alva dengan sepenuh hati.
“aku akan ke IstanaKembar Awan Lagi menemui Galf Lawan. Aku akan bertanya karena dia telah menipuku.” Kata balle lansung diikuti oleh Alva menuju Istana Awan Kembar.
"Lawan, kamu bohong! Kamu bilang aku akan pulang kalau ada anak yang menggantikan aku" Teriak Balle pada kurcaci Lawan ketika ia tiba di depan gerbang Istana.
"Hmm.. Ipitupu, apanupu, Moponsepeteper apawapan sepedapang sipibupuk, sepebepentapar lapagipi kapamupu apakapan pupulapang." (Hmmm... Itu, anu, monster awan sedang sibuk, sebentar lagi kamu akan pulang) Jawab kurcaci Lawan dengan gugup dan takut.
“kau telah menipuku Galf Lawan” Balle sadar, kurcaci Lawan sudah membohonginya, lalu ia pergi kembali ke padang pasir awan.
xxx
Hari - hari balle sangat membosankan, walaupun disini balle bisa main sepuasnya bersama alva, makan dan minum apa saja yang ia pikirkan tapi balle merasa sangat kesepian. Ia ingin kembali kesekolah. Bermain bola, berlari dilapangan , melihat warna hijau rumput.
"Lawan sudah berbohong. Aku tidak akan percaya lagi padanya." Kata Balle pada Alva. “kau sebaiknya memakai Payung itu Alva Jangan kau pai Peelampung itu.” Jelas Balle yang sebelumnya sudah menceritakan pengalaman pahitnya.
“kawan, kamu bilang hanya anak nakal yang dimakan Monster Awan? Tapi temanku Alva adalah anak Baik." Tanya Balle saat mereka sedang bersama di hari Keempat setelah Banjir.
"Apapapa kapamupu yapakipin Balle?, copobapa tapanyapakapan papadapa Alva, kepenapapapa dipaapa apadapa dipisipinipi?," (Apa kamu yakin Balle? Coba tanya pada Alva, kenapa dia berda disini) Kata kurcaci Kawan sambil melirik ke arah Alva.
"Alva, kamu kan anak baik, kenapa bisa kamu di makan monster awan ini? Monster awan hanya memakan anak-anak nakal" tanya balle tak percaya.
"Aku selalu membantah ayah ibu ku. Waktu aku dimakan monster awan, akulari dari ibuku yang menyuruhku untuk makan. Lalu tinggal berapa hari lagi Banjir akan datang ?” Tanya Alva yang sudah mulai bosan dengan kehidupan di Perut Monster.
"Tipigapa haparipi lapagipi. Sapaapat bapanjipir dapatapang kapamupu haparupus beperjapanjipi apakapan beperupubapah lepebipih bapaipik dapan tipadapak apakapan napakapal lapagipi. Opooh ipiyapa Balle, kapamupu jupugapa haparupus mepenjapagapa Alva supupapayapa dipiapaa tipidapak dipipepengaparupuhipi opolepeh sipi Lawan sepepepertipi kapamupu dupulupu" ( Tiga hari lagi, saat banjir datang kamu harus berjanji akan berubah lebih baik n tidak akan nakan lagi, ooh iya Balle, kamu juga harus menjaga Alva supaya tidak dipengaruhi oleh si Lawan seperti kamu dulu.) jelas kurcaci Kawan.
"apa yang dia kaktakn Balle?. aku masih bingung yang dia katakan. Padahal aku dudah 4 hari disisni.?" Tanya Alva kebingungan
Balle dan Galf Kawan tertawa...
xxx
Hari yang ditunggu pun datang, banjir besar datang, Balle dan Alva mengeluarkan payung kecil pemberian kurcaci Kawan sambil berjanji;
"Mamah, papah... Maafkan aku, aku janji akan nurut, aku tidak akan main hujan - hujanan lagi. akan berbuat baik" teriak Balle dengan sunguh - sungguh. Banjir lalu menghujam badannya .
"Aku menyesal, aku berjanji tidak akan membuat mamah marah lagi." Teriak Alva. Yang tertarik ke arah yang jauh lalu menghilang.
Banjir semakin besar, dan menengelamkan mereka berdua, sesekali Balle masih mengeluarkan kepalanya, badannya seakan terbawa ke segala arah. Dalam pikirannya ia hany meminta maaf pada keluarganya. “maaf mah... maaf ham... kakekk... nenekk...” Balle Tenggelam , semakin dalam terhisap oleh sesuatu. Balle mersa akan meninggal, badannya merasakan hal aneh, dingin, terbanting banting kesakitan. ia pun tak lupa membuka payungnya. Badannya terhisap semakin dalam, lalu ia seakan keluar dari perosotan water boom dan ia sekarang bisa bernafas kembali . ia melihat dunmia dari atas.
Ia baru saja jatuh dari awan besar berbarengan dengan hujan. Selama ini ia berada di dalam awan, dan hujan membawanya jatuh kebawah dan payungnya? Ia masih memegang payung yng yang tiba tiba menjadi besar dan menahan tubuhnya tapi angin membawanya terbang, dan payungnya pun terlepas...
Angin membawa tubuhnya terbang dan lalu gelap.
“balle..” kata suara lembut yangia kenal suara ibunya.
“ikbal..” kata suara lain yang lebih berat, itu suarak kakeknya..
“matanya bergerak mah, sadar mah. “ kata semangat ilham.
“akhirnya setelah berhari-hari, terimaksih ya tuhan” kata Nenek Bale lembut
“mah...” kata yang terucap pertama kali dari mulut ikbal.
“balle,...” memeluk Balle dengan tangisan bahagia.
Rumah Sakit. Ruang ICU. Tempat itulah ia berada sekarang. Ia telah 10 hari disana. Mungkin lebih tepatnya adalah raganya. Karena selama 10 hari ini ia merasakan petualangan yang luar biasa di tempat menakjubkan
.
“ball, ini ada di saku kamu waktu kamu kena petir itu.” Kata Ilham yang menyerahkan sebuah bollpoint berbentuk payung.
“hah?: Petir? Jadi aku tersambar Petir?, Payung ini....” Balle terkejut lalu menekan tombol di bollpoint itu , lalu keluar secarik kertas bertuliskan :
-Japadipilapah Apanapak Bapaipik, dapan Sepelapalupu Meperupunipi peperipintapah oporapang tupuapamu. Japagapa kepelupuapargapa mupu. Kapalapau tipidapak mapakapa moponsepeteper apawapan apakapan mepemapakapanmupu.-
(-Jadilah Anak Baik, dan Selalu Menuruti perintah kedua Orang Tuamu, jaga keluarga kalau tidak maka Monster Awan akan Memakanmu-)
___________________________________________________________________________
AJIPOKKIGAYO
"Meoonggg... Hhrkkii Meong, ngeeoongg,... " Tanya si Gayo sambil menjilati tangannya.
"Ngoongg.. Hhrrkkk... Eong.. Keong meeunongg" Jawab Aji menjilati tubuhnya
"Ngong?.." Tanya Gayo lalu bangun mendekat ke Aji.
Gayo dan Aji sedang berbincang, gayo adalah kucing jantan berwarna coklat, jenis kucing kampung biasa berbadan lebih kurus dibanding Aji. Sedangkan aji Kucing betina Berwarna Belang kucing kampung yang memiliki badan yang yang lebih gemuk, mungkin karena ia sering makan makanan yang lebih enak dibanding Gayyo. Setiap hari ia makan di warung Nasi, tapi hanya sisa sisa makanannya saja, Aji tipikal kucing penakut untuk mencuri makanan seperti kucing liar.
"Ji, si Pokki mana? Gak ikut nongkrong,..." Tanya Gayo mengendus ngendus sesuatu di tanah.
"Mm... Si Pokki mah lagi minum susu, and makan makanan kaleng" jawab Aji terlentang, berjemur.
Pokki kucing peliharan seorang manusia bernama Bu Setiawan, Bu Setiawan memiliki dua Anak bernama Ikbal (10tahun) dan Ilham (8tahun). Pokki sangat disayang oleh majikannya itu. Bu Setiawan walaupun sibuk bekerja dan mengurus keuda anaknya ia selalu memberi makan Pokki dengan makanan kucing kaleng dan juga memberi minum susu. Tapi semua kehidupan Pokki berubah mulai hari ini.
"Pokki, pokki, pokki... Puuss..." Teriak Bu setiawan mencari kucing kesayangannya itu ke dapur lalu ke halaman. “Balle, kamu liat Pokki?” tanyanya pada anaknya Ikbal.
"enggak tau mah" jawab ikbal tanpa melihat ke arah ibunya, melainkan ke arah adiknya yang di sebelahnya..
"tadi pagi kan Sebelum mamah kerja kamu yang bawa main.." tanya ibu Setiawan.
"diPasar mah." Jawab Ikbal tiba tiba lalu lari sambil tertawa ke arah kakaknya..
"Di pasar? " terkejut “kamu bawa Pokki ke Pasar? Terus sekarang dimana pokkinya ball?”. Yang nampak sedih melihat kelakuan anaknya yang nakal satu ini.
"maafin aku mah. Tadi kucing nya loncat, trus aku kejar udah gak ada mah... dari tadi aku udah nyari mah, Kakek juga udah bantuin nyrai tapi enggak ketemu mah, maafin ikbal mah.." jelas Ikbal pada ibunya, lalu menangis sambil memeluk ibunya.
“ya udah, biar mamah cari lagi ya. Kamu tunggu disini, siapa tau Pokki balik lagi kesini..” jelas Bu setiawan pada anaknya menenangkan anaknya..
Di Pasar, Pokki memulai petualangannya. Pokki sangat panik saat dia kembali ia kehilangan anak majikannya Ikbal dan Ilham yang mengajaknya ke pasar. Terakhir yang ingat ia melompat dari pangkuan Ikbal karena di ejek kucing lain yang melihat nya di gendong lalu meledeknya, Pokki yang emposi lalu loncat dari pangkuan lalu mengejar kucing pasar yang mengejeknya tadi. Ia menyesal harusnya ia tidak terpancing emosi. Sekarang Yang ia lihat banyak manusia yang hilir mudik, dan juga banyak kucing dengan bulu yang lusuh dan bau, beda dengan dirinya yang punya bulu yang lembut karena dia sering di bawa ke salon sama majikannya. Pasar ini sangat asing bagi walaupun sebenarnya letaknya tidak jauh dari rumah majikannya. Tapi ia tak mengetahuinya itu karena dia belum pernah ke Pasar sebelumnya. Biasanya ia hanya di halaman rumah, atau diajak bermain ke rumah orangtua Bu Setiawan yang berjarak beberapa meter saja.
Perut kucing rumahan berbulu Coklat muda cerah ini sudah terasa lapar dari siang tadi, tapi ia tak mendapatkan makanan yang biasa ia makan, yang ia lihat hanya makanan yang kotor dan menjijikan. Ia teringat temannya Gayo yang selalu ia hina karena Gayo suka makanan sisa. Dan sekarang dia berada di posisinya Gayo, jadi kucing kehilangan majikan. Dia bingung, perutnya lapar, yang ada di depannya hanya ada ikan asin yang sudah jelek bentuknya.dan terletak di tanah begitu saj, mungkin itu ikan asin yang jatuh atau memang sengaja dibuang. Karena dia sangat lapar akhirnya Pokki memakan makanan itu. Dengan enggan dia mengendsu ikan itu , agak bau, tapi akhirnya ia memakannya juga.
"Mm nyam, nyam, nyam" kunyah Pokki, "mm... Wahh... Ini enak juga" katanya yang baru pertama kali makan ikan asin.
Lalu tiba-tiba dibelakang Pokki datang seekor kucing hitam kurus, kucing ini adalah kucing penghuni pasar. Kucing ini bernama Bleki 16. Kucing ini menghampiiri Pokki dengan memasang wajah galak dan kukunya sudah ia siapkan untuk menyerang Pokki.
"Ehhemm... Siapa lu? Ngapain lu di tempat gue?" Tanya Bleki16 tiba-tiba.
"Pokki! Gua lagi makan." Jawab Pokki kaget mejatuhkan ikannya.
"Pokki? Haa kayak nama betina ajah!, enak ikan asinnya? Pasti lu baru dibuang yah?" Tanya Bleky16 menghina Pokki sambil melihat bulu Pokki yang lembut.
"ini enak banggeett! Iyah, ehh... Ko lu tau gua baru dibuang?" Tanya Pokki heran.
"Ya ialah gue tau, cuman lu kucing kampung jantan yang bulu nya wangi, trus cara lu makan itu aneh! Lu pasti belum pernah makan ikan asin sebelumnya kan."
"Iyah. Wah tebakkkan yang sempurna. Ehh, sory nama lu siapa?’
"Gue Bleki16"
"Enambelas??" Tanya Pokki bingung
"Iyah, soalnya nama Bleki disini banyak, kucing di sini banyak kucing item kayak gue. Kalo ada kucing item pasti namanya bleki. Dan gue kucing item ke enambelas disini."
"Oohhh...l ohya, gua bolehkan tinggal disini? Sementra ajah..." pinta Pokki tulus, yang kebingungan jalan pulang.
"Bolehlah! Sementara?... Emang lu mau balik lagi ke rumah majikan lu?"
"Iyah! Nanti pasti teman - teman gua si Aji ama si Gayo nyariin gua"
Ditempat lain Aji dan Gayo panik mendengar bahwa Pokki Hilang Di pasar. Mereka pun langsung mencari Pokki ke pasar.
"Dibuang?? Kemana?? Kok bisa??" Tanya Gayo
"Ke Pasar yo! Kita cari ya... Sekarang..." Jawab Aji panik.
"Bukannya si Pokki disayang banget ama majikannya?"
"gak tau aku juga, si Pokki itu kan tdi terakhir di bawa ama Ikbal dan Ilham ke pasar. Mungkin mereka sengaja ngebuang Pokki." Jelas Aji sambil berlari lari kecil ke arah pasar.
Aji dan Gayo pun mencari Pokki di Pasar. Seharian mereka berdua dibantu oleh teman temannya Gayo untuk mencari Pokki. Tapi pencariannya sia-sia. Sampai larut malam pun mereka belum menemukan jejak Pokki.
"Ji, udah malem, lu pulang ajah, tar sisa makanan warung bu Lilis keburu dibuang." Suruh Gayo
"Tapi Pokki belum ketemu yoo.. Dia kan gak punya banyak temen, temennya cuman kita doang" jawab Aji. “dia pasti kesusahan disini, ia juga gak apal jalan.”
"Tenang, kucing kan nyawanya 7, sekarang lu pulang ajah! Ga baik kucing betina berkeliaran malem-malem gini" perintah Gayo.
*****
Hari pun berganti, Pokki mulai membiasakan diri hidup di Pasar ini. Bleki16 sangat membantu Pokki untuk membiasakan diri, Bleki16 juga sering mambantu mencari makan.
"Kii, sekarang kita nyari Tikus!"
"Tikus? Wah pasti enak, gue belum pernah makan Tikus sebelumnya" jawab Pokki polos
"Apaah??... Sumpah demi apa lu?" Tanya Bleki16 gak percaya
Bleki16 pun dengan mudah mendapakan seekor tikus, lalu mereka berdua pun makan tikus itu bersama-sama. Ada perasaan aneh yang Pokki rasakan ketika dia makan berasam kucing betina yang satu ini.
"Mm... Ini enak banget, lebih enak dari makanan kaleng, ama ikan asin kemaren. Kayaknya gua harus belajar ama lu bleki!" Kata Pokki sambil memakan tikus itu.
"Iyah, nanti gue ajarin" jawab Bleki16
Di sudut pasar yang lain Aji dan Gayo masih mencari Pokki. Tapi pasar ini sangat besar, sulit bagi Aji dan Gayo mencari seekor kucing. Malam pun berlalu. Gayo dan Aji pulang. Aji pulang ke Warung bu Lilis , warung tempat dia tinggal. Sedangkan gayo tinggal di sebuah rumah mewah yang hanya di huni oleh seorang bernama Karyo.
Malam ini Bleki16 mengajarkannya berburu tikus pada Pokki. Dan akhirnya Pokki berhasil mendapatkan seekor anak tikus kecil. Dan pokki sangat senang sekali. lalu Pokki pun memakan tikus itu dengan lahap. Setelah ia makan, Ia melihat Bleki16 terlihat sangat cantik, dan sexy. Naluri keJantanan Pokki pun timbul, dan akhirnya dia melakukan 'KAWIN' dengan Bleki16, betina yang baru 2 hari ia kenal. Dan ini adalah pertama kali pokki melakukannya. Ia bingung mengapa ia melakukannya. Padahal betina yang ia cintai selama ini adalah Aji. Aji adalah cinta pertamanya.
*****
Satu Minggu sudah Pokki berada di Pasar ini. Dia sudah terbiasa dengan kehidupan barunya. Dan sudah 2 kali dia Kawin dengan Bleki16. Dan siang ini pun ia melakukannya untuk ke 3 kalinya. Saat dia sedang Kawin dengan Bleki16. Tiba-tiba datang seekor kucing dibelakang.
"Pokki... Lu ngapain disinih ama betina murahan ini?"Teriak Aji tiba-tiba.
"Aji..." Kata pokki kaget
"Apa lu bilang? Murahan? Siapa yang murahan?" Bentak Bleki16
Aji dan Bleki16 pun bertengkar hebat. Saling teriak, saling cakar, dan saling mendorong. Lalu tiba- tiba...
BBHYYYYYUUURRRRR!!!!!!!!!!!!!
Seorang manusia menyiram kedua kucing yang sedang bertengkar itu. Bleki16 pun lari meninggalkan Aji, Pokki, dan Gayo. Pokki hendak menyusul bleki16 tapi di tahan oleh Aji. Aji dan Pokki pun bertengkar. Gayo yang juga ada di tempat itu hanya bisa terdiam melihat kedua temannya bertengkar. Ia patah hati melihat ini semua. Gayo sangat mencintai Aji. Tapi sekarang ia tahu mengapa Aji selalu menolaknya, karena Aji mencintai Pokki. Itu terlihat dari reaksi Aji sekarang. Aji menangis, dan kecewa pada Pokki.
"Kenapa kamu jadi begini pokk??, aku nyari kamu terus seminggu ini , tapi kamu malah seneng - seneng ama betina murahan." Tanya aji sambil menangis.
"Dia bukan kucing murahan. Dia baik. Dia banyak ngajarin aku jadi kucing yang sebenarnya" jawab pokki.
"Tapi aku cinta sama kamu pokk..."
Aji pun lalu pergi sambil menangis. Pokki sekarang bingung. Siapa yang harus ia kejar. Cinta pertamanya Aji atau cinta terakhirnya Bleki16. Dan cinta terakhirnya lah yang ia pilih, Pokki mengejar bleki16. Gayo yang melihat itu lalu mengejar pokki, dia ingin sekali menghajar Pokki karena telah menyakiti betina yang sangat ia cintai. Lalu mereka berdua kaget melihat keramain orang orang yang sedang melihat seekor kucing yang terlindas mobil. Dan kucing itu adalah Bleki16. Pokki sangat syhokk... dia pun menangis. Bleki16 di kubur oleh seorang warga di sekitar pasar.
"Udah pokk... Lu harus ikhlas" kata gayo
"Kenapa dia harus pergi secepat ini. " Tanya pokki
"Sekarang lu harus pulang. Lu tau ga, sekarang dewi udah kerja. Dia terus ajah nyari-nyari lu." Usul gayo
Pokki pun kembali ke rumah Bu Setiawan dengan diantar Gayo. Bu Setiawan, Ikbal dan Ilham sangat senang kucing kesayangannya kembali. Sedangkan Aji yang mengetahui pokki kembali sangat senang. Tapi dia juga sedih mendengar Bleki16 sudah tiada, ia juga merasa sangat bersalah.
"Maafin aku pokk..."
"Iya.. Ini bukan salah kamu." Jawab pokki pelan.
"Kita tetep temenan kan?.." Tanya aji
"Iya lah... Iya gak yo?.." Tanya pokki pada gayo
"Iyallaahh... Kita kan temen sejati. Teman selamanya" jawab gayo
"Aji" kata gayo
"Pokki" kata aji
"Gayo!" Kata pokki
"Yeaayy" seru mereka bertiga...
___________________________________________________________________
Minggu, September 14, 2014
Senin, Juni 30, 2014
lagu; Ditinggal Kekasih
Lagu; ditinggal kekasih
Semua menghilang rasa
Dulu kau penopang ku, cahaya
Langit tak lagi biru, kelabu
Sekarang tanpamu
Aku Selalu berharap tanpa henti
Selalu berdoa untukmu yang ku rindu
Kemarin menanti, dimana janjimu
Kemarin mencinta, cinta tak pernah berhenti
Dan cinta tak akan pernah berganti.
Kembali, dimana dirimu
Ketika tertawa kita dulu
Kusadari kini tak seindah masa lalu
Hati tak ingin berpisah,
Entah mengapa, tanpa alasan, ku benci
Bukan padamu, tapi pada pilihanmu
Entah mengapa, tanpa henti, ku sakit
Bukan karenamu, tapi kepergianmu
Kutanya...
Apa karena hati telah berganti?, kau jawab tidak
Apa ada yang salah? Kau jawab iya.
'Aku yang salah' jawabmu
Lalu kau pergi.
___________________________
Ditinggal Kekasih
Gaagas Alf
(@gaagad June 1st 2014)
Semua menghilang rasa
Dulu kau penopang ku, cahaya
Langit tak lagi biru, kelabu
Sekarang tanpamu
Aku Selalu berharap tanpa henti
Selalu berdoa untukmu yang ku rindu
Kemarin menanti, dimana janjimu
Kemarin mencinta, cinta tak pernah berhenti
Dan cinta tak akan pernah berganti.
Kembali, dimana dirimu
Ketika tertawa kita dulu
Kusadari kini tak seindah masa lalu
Hati tak ingin berpisah,
Entah mengapa, tanpa alasan, ku benci
Bukan padamu, tapi pada pilihanmu
Entah mengapa, tanpa henti, ku sakit
Bukan karenamu, tapi kepergianmu
Kutanya...
Apa karena hati telah berganti?, kau jawab tidak
Apa ada yang salah? Kau jawab iya.
'Aku yang salah' jawabmu
Lalu kau pergi.
___________________________
Ditinggal Kekasih
Gaagas Alf
(@gaagad June 1st 2014)
Sabtu, Juni 21, 2014
Lagu; Rayuan Indah
Indah tersenyumlah
Indah ku mohon jawablah
Apakah ada yang salah
Dengan apa yang ku lakukan?
Dia hanya seorang wanita
Ku hanya berlaku baik
Seperti yang ku lakukan pada
Semua orang baik
Aku tahu kau cemburu, tapi
Kau tahu ku tak bisa lagi mencinta.
Karena ku telah mencintaimu.
Mata ini buta melihat semua
Indahnya dunia.
Yang ku lihat Hanya cantik wajahmu
Yang sederhana nan bercahaya
Seperti namamu, indah.
Matamu, wajahmu, senyummu, hatimu,
Dan semua tentangmu
Membuat hatiku nyaman.
Membuat ku bahagia.
You're so beautiful
For me, for now, and forever.
Always beautiful.
Ini memang sebuah rayuan.
Tapi tak ada yang berlebihan.
Aku jujur apa adanya.
Dari hati.
________________
Rayuan Indah
Gaagas Alf
@gaagas June 1st 2014
Indah ku mohon jawablah
Apakah ada yang salah
Dengan apa yang ku lakukan?
Dia hanya seorang wanita
Ku hanya berlaku baik
Seperti yang ku lakukan pada
Semua orang baik
Aku tahu kau cemburu, tapi
Kau tahu ku tak bisa lagi mencinta.
Karena ku telah mencintaimu.
Mata ini buta melihat semua
Indahnya dunia.
Yang ku lihat Hanya cantik wajahmu
Yang sederhana nan bercahaya
Seperti namamu, indah.
Matamu, wajahmu, senyummu, hatimu,
Dan semua tentangmu
Membuat hatiku nyaman.
Membuat ku bahagia.
You're so beautiful
For me, for now, and forever.
Always beautiful.
Ini memang sebuah rayuan.
Tapi tak ada yang berlebihan.
Aku jujur apa adanya.
Dari hati.
________________
Rayuan Indah
Gaagas Alf
@gaagas June 1st 2014
Langganan:
Postingan (Atom)