"Monster Awan"
Pada jaman dahulu kala hiduplah seorang anak kecil berumur 10
tahun, anak itu bernama Balle. Balle adalah anak bandel yang selalu
membantah orang tuanya. Pada sore hari yang mendung Balle di suruh
ibunya untuk pulang kerumah, tapi balle tidak mau pulang, balle lebih
memilih bermain di luar sambil menunggu hujan.
"Balle... Pulang nak, sudah sore, lihat awannya mendung. Jangan lah
kau hujan-hujanan lagi"
Perkataan sang ibu tidak balle dengar, balle berlarian kesana
kemari menghindari ibunya yang mengejarnya, dan bersembunyi di semak -
semak. Ibu Balle pun pulang ke rumah karena terlalu capek nengejar
anaknya yang nakal.
Balle melihat ke langit, langit masih belum hujan. Lalu tiba - tiba
sekumpulan awan menyatu menjadi gumpalan awan besar, gumpalan awan
besar itu membentuk sebuah wajah seram dengan mulut terbuka, gumpalan
seperti monster itu mendekat pada Balle. Balle pun ketakutan dan
berlari kencang kerena di kejar oleh monster awan itu. Monster awan
itu sangat besar, mulut terbuka lebar hendak memakan balle yang sedang
berlari. Balle berteriak kencang, tapi tak ada satu orang pun yang
menolongnya. Lalu balle terjatuh, dan akhirnya balle pun dimakan
monster awan itu.
"Aaaaaaakkhh... " Teriak balle.
Setelah balle dimakan oleh monster itu, balle sekarang berada di
sebuah tempat yang gelap dan penuh kabut. Balle bingung sekarang dia
sedang berada dimana.
"Dimana ini? Apakah ini perut monster awan tadi?" Pikir balle yang kebingungan.
Balle pun mencari jalan keluar untuk bisa pulang kerumah, tapi tak
ada jalan keluar, yang dilihatnya hanya sebuah tempat yang luas
sekali, tempat yang seperti taman putih, karena semua yang terlihat
hanya putih. Saat balle mencari jalan keluar ia melihat dua anak kecil
yang sedang bertengkar. Lalu balle pun menghapiri ke dua anak itu, dan
berusaha melerainya. Tapi saat balle hendak melerainya, balle di tahan
oleh Kurcaci kecil.
"Beperhepentipi! Japangapan kapau pipisapahkapan kepedupuapa apanapak
ipitupu!" .
(Berhenti! Jangan kau pisahkan jedua anak itu) Bentak kurcaci kecil itu.
"Hah? Kamu bilang apa? Siapa kamu?" Tanya balle bingung dengan bahasa
yang d gunakan peri awan.
"Apakupu Kupurcapacipi apawapan. Napamapakupu Lawan!"
(Aku kurcaci awan, namaku LAWAN) Jawab kurcaci bernama Lawan.
Balle bingung apa yang d ucapkan peri awan itu, bahasa yang di
pakai peri awan sangat aneh.
"ooh, nama kamu Lawan?" Tanya balle.
"Ipi yapa."
(Iya) Jawabnya.
Akhirnya dua orang yang berkelahi pun berhenti karena kelelahan.
Kurcaci Lawan pun pergi, lalu Balle bertanya pada mereka kenapa mereka
bertengkar.
"Dia mau mengambil makanan ku!" Kata anak kecil pertama.
"Tidak, Lawan bilang aku boleh memakannya." Bela anak kecil kedua.
"Memangnya kamu mengerti Lawan bilang apa?" Tanya balle bingung.
"Mengerti lah aku sudah lama berada disisni, nanti kamu juga akan
mengerti bahasa awaan." Jelas anak kecil pertama.
"Kalian siapa? Kenapa kalian bisa berada di tempat ini?" Tanya balle.
"Aku Stian, aku dimakan Monster ini. Sekarang kita berada di dalam
perut nya." Jelas Stian.
"Aku Rizk, kamu siapa? Pasti kamu baru di makan monster ini ya?" Jelas Rizk.
"Aku Balle... Bagaimana kita bisa keluar dari tempat ini?" Tanya balle.
Mereka pun berbincang, Stian menjelaskan bahwa di perut awan ini
ada 2 kurcaci yang bernama kurcaci Lawan dan Kurcaci Kawan. Mereka
berdua sudah lama berada di perut monster awan ini. Rizk lalu juga
menjelaskan cara untuk keluar dari perut awan ini.
"Kata Kawan kita harus menunggu sampai banjir datang, dan kita harus
memegang payung, sambil berjanji" jelas Rizk.
"Berjanji? berjanji apa? Lalu kapan banjir itu datang?" Tanya Balle
"Kita harus berjanji kita tidak akan nakal dan akan berbuat baik pada
semua orang. Banjir itu akan datang beberapa hari lagi." Jawab RIzk.
"Tapi kata Lawan kita harus tetap di sini, saat banjir datang, Lawan
sudah memberi ku pelampung supaya aku tidak tenggelam. " Kata Stian
tiba - tiba.
"Lalu kamu percaya pada siapa?" Tanya Balle.
"Aku tak tahu aku bingung" jawab Stian.
"Kalau aku percaya pada Kawan." Jawab Rizk.
Balle bingung harus percaya pada siapa pada kurcaci Kawan atau
kurcaci Lawan. Perut balle pun sudah terasa lapar, sampai - sampai
perutnya berbunyi. Rizk dan Stian pun tertawa.
"Kamu lapar?... Kamu harus mencari pohon makanan, di sebelah sana"
jelas Rizk sambil menujuk k satu arah.
"Ayo aku antar, aku juga masih lapar." Kata Stian
"Aku juga ikut, tapi kamu jangan ambil makanan ku lagi ya! " Kata Rizk
pada Stian.
Mereka pun tiba di tempat seperti kebun, Di kebun awan ini terdapat
awan yang berbentuk pohon yang berbuah. Bentuk buah buah ini sangat
aneh, tidak seperti buah yang biasa ia lihat.
"Hmm... Enak, ini buah ini rasa semangka!" Kata Balle sambil memakan
makanan awan berwarna merah.
"Ipitupu kaparepenapa kapamupu beperpipikipir bepegipitupu"
(Itu karena kamu berpikir begitu) kata seseorang tiba-tiba.
"Maksudnya? Aku tidak mengerti!" Tanya balle bingung.
"Kata dia Kalau kamu berpikir makanan itu semangka, maka rasanya akan
semangka, kalau kamu berpikir makanan rasa pahit maka akan pahit
rasanya" jelas Rizk.
"Kamu... Kamu kurcaci Kawan?" Tanya Balle
"Ipiyapa, daparipimapanapa kapamupu tapahupu?" .
(Iya, drimana kamu tahu?) Tanya Kurcaci Kawan.
"Katanya, kamu tau darimana?" Jelas Stian.
"Kata mereka disini ada 2 kurcaci, Lawan dan Kawan, aku sudah melihat
kurcaci Lawan, berarti kamu kurcaci Kawan." Jelas Balle.
Balle banyak mengobrol dengan peri Kawan, sambil mepelajari bahasa
Awan. Sampai akhirnya ia mengerti sedikit - sedikit bagaimana bahasa
Awan itu. Iya mengerti bahwa dalam Bahasa awan suku kata nya hanya d
tambahkan huruf 'P' lalu d ikuti huruf vokal suku kata ter sebut.
Seperti ba menjadi bapa, Bi menjadi Bipi, a jadi apa, contoh; AKU : A
dan KU, A-apa KU-kupu jadu AKU adalah ApaKupu
Setelah banyak berceritan tentang tempat aneh ini, ia pun
menanyakan soal jalan keluar dari perut awan ini pada Kawan. Sedangkan
Rizk dan Stian sibuk makan.
"Kawan, bagai mana cara keluar dari sini?" Tanya Balle.
"Kapamupu haparupus sapadapar kepenapapapa kapamupu beperapadapa
dipisipinipi. Moponsepeteper Apawapan hapanyapa mepemapakapan apanapak
- apanapak napakapal."
(Kamu harus sadar, kenapa kamu berada disini. Monster awan hanya
memakan anak anaik nakal) Jelas kurcaci Kawan.
"Aku tidak Nakal." Jawab Balle.
"Bepesopok Lupusapa apakapan apadapa Bapanjipir bepesapar, kapamupu
haparupus mepemepegapang papayupung sapambipil beperjapanjipi
tipidapakk apakapan napakapal lapagipi."
(Besok lusa akan ada banjir besa kamu haru memegang payung sambil
berjanji tidak akan nakal lagi.) Jelas kurcaci Kawan.
"bopohopong, kapamupu haparupus mepemapakapai pepelapampupung sapaapat
bapanjipir dapatapang, dapan japangapan beperjapanjipi apapapapupun,
papayupung apakapan mepembupuapat kapamupu tepenggepelapam dapan
mapatipi."
(Bohoong! , kamu harus memakai pelampung saat banjir datang dan jangan
berjanji apapun, payung akan membuat kamu tenggelam dan Mati) Kata
Kurcaci Lawan tiba - tiba.
"Dimana aku dapat payung dan Pelampung itu?" Tanya Balle.
"Ipinipi"
(Ini!) kurcaci Kawan mengeluarkan payung kecil.
"Japangapan teperipimapa papayupung ipitupu, bapawapalapah
pepelapampupung ipinipii supupapayapa kapamupu tipidapak
tepenggepelapam."
Jangan terima payung itu, bawalah pelampung ini, supaya kamu tidak
tenggelam) Perintah kurcaci Lawan.
"Bawa aja keduanya, aku juga punya dua-duanya!" Teriak Stian.
Balle pun menyimpan kedua barang itu dan menyimpan nya di saku
celananya. Kedua kurcaci kecil yang berbetuk gumpalan awan itu pun
pergi. Tempat mereka berada mulai berwarna Gelap, ini adalah malam
hari di dalam perut monster awan. Karena sudah kenyang dan mulai
ngantuk Balle, Stian, dan Rizk pun Tidur di sebuah Pohon awan yang
berbentuk seperti tempat tidur.
*********
Keesokkan harinya perut monster awan sudah kembali cerah dipenuhi
kabut putih. Ketiga anak ini mengabiskan waktu sambil bermain.
Walaupun kadang mereka bertengkar. Gumpalan awan yang mereka injak
sudah terasa basah.
"Stian, Rizk, lihat tanah awan nya basah, dan mungkin akan banjir
besok." Teriak Balle pada Stian dan Rizk.
"Akhirnya, aku sudah tidak sabar menunggunya. Apa yang akan kau pakai
Balle?" Tanya Rizk
"Entahlah aku bingung." Jawab Balle.
"Lihat, danau itu air nya mulai meningkat!" Teriak Stian menunjuk ke
arah danau awan.
Setelah makan, Balle mencari Kurcaci Kawan dan Lawan. Setelah
berjalan beberapa lama, akhirnya Balle bertemu dengan kurcaci Lawan.
"Supudapah Kapamu puputupuskapan? Bepesopok kapamupu apakapan
mepemapakapai pepelapampupung daparipikupu kapan?"
(Sudah kamu putuskan? Besok kamu akan memakai pelampung dariku kan?)
Tanya kurcaci Lawan.
"Kenapa aku harus memakai pelampungmu?" Tanya Balle
"Copobapa kapamupu pipikipir, apapapakapah papayupung kepecipil
bipisapa mepenyepelapamapatkapan mupu daparipi bapanjipir bepesapar?"
(Coba kamu pikir, apakah payung kecil itu bs menyelamatkan mu dari
banjir besar?) Tanya kurcaci Lawan.
Balle terdiam.
"Bapanjipir bepesapar bepesopok apakapan mepembupunupuh kapalipiapan,
kapalapau kapamupu mepemapakapai pepelapampupung kapamupu apakapan
sepelapamapat."
(Banjir besar besok akan membunuh kalian, kalau kamu memakai
pelampung, kamu akan selamat.) Jelas kurcaci Lawan.
"Lalu bagaimana aku keluar dari tempat ini?" Tanya Balle semakin bingung
"Kapamupu hapanyapa haparupus bepersapabapar, napantipi Moponsepeteper
apawapan apakapan mepengepelupuaparkapan mupu kapalapau supudapah
apadapa apanapak pepenggapantipi kapamupu."
(Kamu hanya harus bersabar, nanti monster awan akan mengeluarkanmu
kalau sudah ada anak pengganti kamu" jelas kurcaci Lawan memastikan.
Suasana di perut monster awan sudah gelap, ini adalah malam disini,
air sudah sampai mata kaki Balle. Balle pun pergi untuk Tidur.
*******
Pagi pun datang, Saat ketiga anak ini terbangun dari tidurnya, air
sudah setinggi lutut mereka. Mereka kebanjiran. Stian mengeluarkan
payungnya. Rizk juga mengeluarkan Payungnya. Sedangkan Balle masih
bingung. Stian dan Rizk berteriak - teriak sambil berjanji untuk tidak
nakal lagi.
"Aku janji tidak akan berkelahi, akan nurut sama mamah papah, tidak
akan menjaili adik lagi, akan rajin." Teriak Stian.
"Aku janji tidak akan nakal lagi, tidak akan berbohong lagi, tidak
akan menyusahkan mamah papah, akan membanggakan mamah papah." Terka
Rizk.
Air semakin meninggi sampai dada mereka, Balle lalu mengeluarkan
Pelampungnya, dan hanya terdiam. air semakin deras dan meninggi, dan
banjir besar ini pun menenggelamkan Stian dan Rizk.
"Kepenapapapa kapamupu mepemapakapai pepelapampupung? "
(Kenapa kamu memakai pelampung itu?) Tanya kurcaci Kawan di atas pohon
awan yang sangat tinggi.
"Bapagupus, lipihapat kepe dupuapa apanapak ipitupu mapatipi
tepenggepelapam, kapamupu apakapan sepelapamapat !!"
(Bagus, lihatlah kedua anak itu mati tenggelam, kamu akan selamat)
teriak kurcaci Lawan yang juga berada di atas pohon Awan.
"Bapanjipir beperipikuputnyapa apakapan lapamapa sepekapalipi dapatapangnyapa."
(Banjir berikutnya akan lama sekali datangnya.) Teriak kurcaci Kawan.
Air pun surut, Balle selamat, dan tetap berada di tempat aneh ini.
Balle binggung, ia sedih melihat Stian dan Rizk tenggelam. Dan ia
berpikir, apakah mereka Mati, atau selamat dari tempat yang penuh
dengan awan ini. Sekarang ia hanya sendiri di tempat ini. Lalu ia pun
menangis dan menyesal sudah tidak mendengarkan ibunya yang menyuruhnya
pulang, kalau saja ia menuruti ibunya, dia tidak akan berada di tempat
ini.
"Kapamupu supudapah mepengepertipi kepenapapap kapamupu beperapadapa
dipisipinipi?"
(Kamu sudah mengerti kenapa kamu berada disini?) Tanya kurcaci Kawan
yang datang menghampirinya.
Balle mengangguk
"Bapanjipir sepelapanjuputnyapa saptupu mipinggupu lapagipi, ipitupu
apakapan sapangapat lapamapa, apapa lapagipi kapamupu hapanyapa
sependipiripi dipisipinipi."
(Banjir selanjutnya satu minggu lagi, itu akan sangat lama, apalagi
kamu hanya sendiri disini) Jelas kurcaci Kawan
"Apa Stian dan Rizk mati tenggelam? " Tanya balle.
"Tipidapak meperepekapa tipidapak mapatipi. Meperepekapa pupulapang
keperupumapahnyapa. Kepenapapapa kapamupu tipidapak mepemapakapai
papayupung daparipi apakupu? "
(Tidak mereka tidak mati, mereka pulang k rumah. Kenapa kamu tidak
memakai payung dari aku?)Tanya kurcaci Kawan.
"Lawan bilang aku harus disini sampai ada yang menggantikan aku. Kalau
aku memakai pelampung aku akan selamat dan tidak tenggelam." Jawab
Balle.
"Sipi Lawan mepemapang japahapat, kapamupu japangapan pepercapayapa
papadapanyapa. mupungkipin dipisipinipi epenapak bipisapa mapakapan
sepepupuapasnapanyapa, bipisapa mapaipin sepeepenapaknyapa, tapapipi
kepehipidupupapanmupu bupukapan dipisipinipi Balle "
(Si lawan emang jahat, kamu jangan percaya padanya, mungkin disini
enak, bs makan sepuasnya, bisa main seenaknya, tapi kehidupan mu bukan
disin ballea.) Jelas kurcaci Kawan.
*******
Hari - hari balle sangat membosankan, walaupun disini balle bisa
main sepuasnya, makan dan minum apa saja yang ia pikirkan tapi balle
merasa sangat kesepian. Saat balle berjalan jalan, lalu balle melihat
seseorang, dan itu adalah Alva.
"Alva!.. " Teriak Balle menghampiri alva.
"Balle, dimana ini, kenapa kamu berada disini?" Tanya Alva kebingungan.
Balle pun mejelaskan pada Alva kenapa mereka berada disini. Lalu
Balle tersadar, dan berpikir. Kalau Alva berada disini, berarti dia
menggantikannya disini, kurcaci Lawan bilang kalau ada anak yang
menggatikannya maka Balle akan kembali ke rumah, tapi Balle masih
berada di perut monster awan ini. Balle pun marah, dan mencari kurcaci
Lawan.
"Lawan, kamu bohong! Kamu bilang aku akan pulang kalau ada anak yang
menggantikan aku" Teriak Balle pada kurcaci Lawan.
"Hmm.. Ipitupu, apanupu, Moponsepeteper apawapan sepedapang sipibupuk,
sepebepentapar lapagipi kapamupu apakapan pupulapang."
(Hmmm... Itu, anu, monster awan sedang sibuk, sebentar lagi kamu akan
pulang) Jawab kurcaci Lawan.
Balle sadar, kurcaci Lawan sudah membohonginya, lalu ia pergi
mencari kurcaci Kawan bersama Alva. Setelah bertemu dengan kurcaci
Kawan, Balle pun meminta payung untuk temannya yang bernama Alva.
"Lawan sudah berbohong. Aku tidak akan percaya lagi padanya." Kata Balle
"Supudapah kupubipilapang kapan Balle, ipinipi Papayupung
upuntupukmupu dapan tepmapan mupu"
(Sudah kubilangkan Balle, ini payung untukmu n temanmu Kata kurcaci
Kawan sambil memberikan payung pada Alva.
"Kawan, kamu bilang hanya anak nakal yang dimakan Monster Awan? Tapi
temanku Alva adalah anak Baik." Tanya Balle.
"Apapapa kapamupu yapakipin Balle?, copobapa tapanyapakapan papadapa
Alva, kepenapapapa dipaapa apadapa dipisipinipi?,"
(Apa kamu yakin Balle? Coba tanya pada Alva, kenapa dia berda disini)
Kata kurcaci Kawan.
"Alva, kamu kan anak baik, kenapa bisa kamu di makan monster awan ini?
Monster awan hanya memakan anak-anak nakal" tanya balle
"Aku selalu membantah ayah ibu ku. Waktu aku dimakan monster awan, aku
lari dari ibuku yang menyuruhku untuk makan. Lalu kapan Banjir akan
datang seperti yang diceritakan Balle tadi?" Tanya Alva.
"Tipigapa haparipi lapagipi. Sapaapat bapanjipir dapatapang kapamupu
haparupus beperjapanjipi apakapan beperupubapah lepebipih bapaipik
dapan tipadapak apakapan napakapal lapagipi. Opooh ipiyapa Balle,
kapamupu jupugapa haparupus mepenjapagapa Alva supupapayapa dipiapaa
tipidapak dipipepengaparupuhipi opolepeh sipi Lawan sepepepertipi
kapamupu dupulupu"
( Tiga hari lagi, saat banjir datang kamu harus berjanji akan berubah
lebih baik n tidak akan nakan lagi, ooh iya Balle, kamu juga harus
menjaga Alva supaya tidak dipengaruhi oleh si Lawan seperti kamu
dulu.) jelas kurcaci Kawan.
"Kamu mengerti dia bicara apa Balle?" Tanya Alva kebingungan
Balle dan Alva mengabiskan waktu bersama, Balle mengajak Alva
mengelilingi perut monster ini, memberitahukan tentang makanan enak
berbetuk buah aneh.
"Ueekk... Gak enak... " Teriak Alva memuntahkan buah Awan.
"Itu karena kamu berpikir buah ini tidak enak, maka rasanya akan tidak
enak, coba pikirkan makanan kesukaan kamu" perintah Balle.
"Baiklah, emmm... Enak! Ini rasa ayam bakar" kata Alva senang.
*******
Hari yang ditunggu pun datang, banjir besar datang, Balle dan Alva
mengeluarkan payung kecil pemberian kurcaci Kawan sambil berjanji;
"Mamah, papah... Maafkan aku, aku janji akan nurut, aku tidak akan
main hujan - hujanan lagi. akan berbuat baik" teriak Balle dengan
sunguh - sungguh.
"Aku menyesal, aku berjanji tidak akan membuat mamah marah lagi." Teriak Alva.
Lalu banjir semakin besar, dan menengelamkan mereka berdua, mereka
lalu tersedot kebawah, lalu mereka berdua terjatuh, mereka keluar dari
awan, bersama air tadi. Mereka pun jatuh kebawah, untung mereka
memegang payung kecil yang berubah menjadi besar, mereka pun turun ke
tanah dengan perlahan karena payung besar yang seperti parasut ini.
Balle dan Alva pun selamat sampai ke tanah, mereka akhirnya sadar,
bahwa selama ini mereka berada di dalam Awan. Dan banjir itu adalah
air hujan, dan air hujan itu yang membawa mereka kembali ke bumi.
Mereka berdua sangat senang. Lalu dari payung besar itu keluar sebuah
Surat yang. Bertuliskan:
-Japadipilapah Apanapak Bapaipik, dapan Sepelapalupu Meperupunipi
peperipintapah oporapang tupuapamu. Kapalapau tipidapak mapakapa
moponsepeteper apawapan apakapan mepemapakapanmupu.-
(-Jadilah Anak Baik, dan Selalu Menuruti perintah kedua Orang Tuamu,
kalau tidak maka Monster Awan akan Memakanmu-)
Balle dan Alva pun kembali kerumahnya masing - masing. Balle sangat
senang lalu memeluk kedua Orang tuanya yang khawatir mencari anak nya
yang hilang ber hari - hari.
"Balle, kemana saja kamu nak?... Ibu dan ayah khawatir" peluk ibu
Balle sambil menangis.
"Maafkan Balle mah, pah, Balle janji akan jadi anak Baik." Jawab Balle.
"Kemana saja kamu? Ayanh mencari kamu kemana - mana" tanya ayah Balle
"balle berada di sebuah tempat yang aneh pah..." Balle pun
menceritakan petualangan nya di Perut Monster awan.
-tamat-
__________________________________
Monster Awan
Gagas Alf.
(@gaagas Nov 10 2012)
gaagas.blogspot.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar